Showing posts with label Prestasi Anak Negeri. Show all posts
Showing posts with label Prestasi Anak Negeri. Show all posts

Thursday, 17 December 2009

ITS Pamerkan 22 Teknologi Baru Bidang Kelautan


 Surabaya (ANTARA News) - Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya di Jawa Timur, memamerkan 22 teknlogi terbaru bidang kelautan di sela Seminar Nasional Teori dan Aplikasi Teknologi Kelautan (SENTA).

Ketua panitia SENTA, Suntoyo ST Meng PhD, di Surabaya Rabu mengatakan, pameran SENTA kali didadakan sebagai salah satu cara untuk saling tukar informasi, pengalaman, dan pemikiran serta memperkuat jaringan antar lembaga, institusi dan pemerintahan dalam bidang teknologi kelautan.

Dalam pameran tersebut, selain menampilkan teknologi terkini di bidang kelautan, terdapat juga teknologi ramah lingkungan,seperti contohnya alat pemecah ombak yang berbahan dasar polyethelene yang bersifat ramah lingkungan, tidak mengalami korosi dan tahan lama.

Wednesday, 16 December 2009

UGM Temukan Radiografi Digital Terbaru

YOGYAKARTA - Tim UGM yang terdiri dari 3 dosen dan peneliti FMIPA yaitu Gede Bayu Suparta, IK Swakarma, Putu Dharmayasa, serta IW Sudirata berhasil mengembangkan teknologi radiografi digital terbaru.

Pengembangan alat itu melalui penambahan beberapa komponen peralatan radiografi, yaitu pada generator sinar X, pengubah gambar serta pada sistem komputernya.

"Perangkat tambahan di 3 komponen ini diintegrasikan jadi sebuah sistem radiografi digital," kata Gede Bayu Suparta, Kamis (3/12/2009).

Ia menjelaskan bahwa dengan pengembangan 3 komponen tambahan baru itu menyebabkan komponen bisa dikendalikan secara otomatis. Hasilnya pun selain digital sekaligus menghasilkan beberapa keuntungan lainnya, seperti mereduksi listrik. Namun jumlah citra radiasi yang dihasilkan justru lebih banyak hingga 20 kali dibanding alat radiografi yang ada selama ini.


"Lebih efisien namun jumlah pancarannya lebih banyak hingga 20 kali lebih dibanding alat sebelumnya," katanya.

Penambahan perangkat pada alat radiografi itu dinilai sangat bermanfaat bagi upaya peningkatan fasilitas layananan kesehatan di Indonesia dan negara berkembang lainnya.

Untuk itu UGM telah mematenkan produk tersebut sehingga terbit sertifikat paten dari Ditjen HKI Depkumham RI tanggal 19 Oktober 2009 dan berlaku secara ekslusif selama 20 tahun.

"Agar teknologi ini dapat dimanfaatkan secara murah di puskesmas dan rumah sakit maka perlu dipatenkan dengan benar," umbuh Gede.

Upaya pengembangan komponen tambahan radiografi ini mulai dirintis pada tahun 2003 ketika tim UGM berupaya mengutak-atik 3 aset komponen peralatan radiografi yaitu pembangkit sinar X lengkap dengan tabung dan sistem panelnya, tabung X-ray Image Intensifier (XRII) lengkap dengan pengubah citra radiografi sehingga menjadi citra video analog, dan satu set meja pasien.

"Tahun 2003 kita sudah mulai rintis sebelum melanjutkan riset hingga pematenannya," jelasnya.


Sumber: okezone.com

Monday, 14 December 2009

Layanan Mirip "Blackberry" Versi Indonesia Diperkenalkan


Jakarta (ANTARA) - Layanan serupa Blackberry yakni aplikasi jejaring komunitas asli Indonesia bertajuk "mobinity.net" diperkenalkan untuk menyediakan berbagai layanan bagi komunitas mobile.

"Mobinity.net merupakan aplikasi jejaring sosial dengan kemampuan lengkap dan dilengkapi dengan APN (Acces Point Name) khusus," kata CEO PT inTouch innovate Indonesia, Kendro Hendra, di sela acara peluncuran mobinity di JCC Jakarta, Senin.

APN tersebut, kata dia, memungkinkan operator menyediakan paket data tak terbatas sehingga layanan dapat diakses oleh pengguna sepuasnya dengan harga mingguan atau bulanan tetap, yang terjangkau tanpa terkena biaya GPRS tambahan.

Mobile community network itu merupakan layanan asli buatan Indonesia yang diluncurkan oleh perusahaan IT; PT inTouch innovate Indonesia.

"Mobinity.net juga merupakan aplikasi `On Device Portal` (ODP) yang khusus dibuat untuk menyediakan berbagai layanan bagi komunitas mobel," katanya.

Komunitas mobile itu mencakup mobiFriends yang merupakan client untuk facebook, mobiChat; client untuk Yahoo!Messenger dan MSN; mobiGroup client untuk akses Facebook Groups; mobiNews client untuk akses berita lengkap dengan foto.

Di samping itu juga tersedia mobiReporter yang merupakan aplikasi warta warga yang memungkinkan pemakai menjadi wartawan dengan meng-upload foto dari kamera ponsel, merekam suara, dan mengetik berita yang dapat dilihat oleh pemakai mobinity lain.

Hasil reportase juga dapat dilihat dan didengar di forum InfoKita.

"Tersedia pula layanan mobiMarket yang merupakan aplikasi yang memungkinkan pemakai mencari dan memasang iklan baris di berbagai portal popular seperti sms iklan Kompas.com dan dalam waktu dekat juga kaskus FJB," katanya.

Layanan mobinity saat ini berjalan pada platform Symbian S60 dan Java-MIDP-2 dan membidik pasar pengguna ponsel yang sudah ada maupun pengguna baru.

"Kami telah menjalin kerja sama dengan semua operator GSM yakni 3, Axis, Indosat, Telkomsel, dan XL yang akan membantu memasarkan layanan mobinity kepada 100 juta pelanggan yang sudah ada," kata Kendro.

Untuk pengguna baru, pihaknya menjalin kerja sama dengan beberapa ponsel merek lokal utama yang menanamkan aplikasi dan APN mobinity dalam ponsel sehingga pengguna dapat langsung mengakses layanan.

Sementara itu, Menkominfo, Tifatul Sembiring, terkait kehadiran aplikasi itu berpendapat, mobinitu yang 100 persen dibuat anak bangsa dan berjalan pada ponsel merek nasional dengan harga akses terjangkau akan meningkatkan demokratisasi terhadap informasi bangsa Indonesia.

"Slogan made in, by, for Indonesia sangatlah tepat sebagai semangat bagi semua pelaku industri komunikasi dan informatika untuk meningkatkan industrinya tanpa melupakan masyarakat menengah bawah," kata Menteri.




Sumber: Yahoo!NEWS

Thursday, 10 December 2009

Asia Star Award 2009 Diraih Mahasiswa Petra Surabaya


Asia Star Awards 2009 yang diadakan di Shanghai, China pada 27 Otober 2009 lalu memilih dua tim mahasiswa Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya sebagai pemenang yang mewakili Indonesia. “Dari Indonesia ada dua tim yang mendapatkan award, sedangkan dari negara lain adalah dua tim dari Singapura dan 11 tim dari Thailand,” kata anggota salah satu tim Petra, Tyrza Adelia di Surabaya.

Ia menambahkan “Asia Star Award 2009 itu memiliki empat kategori yakni konsumen, kemasan lingkungan, kemasan transportasi, dan pelajar, tapi penghargaan itu bukan kami yang menerima, melainkan universitas (lembaga)”. Tyrza Adelia bersama rekan-rekannya menerima penghargaan di tingkat Asia itu setelah memenangi lomba “Academy Design Award 2009 – Packaging To Innovation (PACK2i)” yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur pada Juni lalu.

“Peserta lomba serupa di tingkat Asia itu memang merupakan pemenang di negaranya. Dari lomba tingkat nasional sebenarnya ada sembilan tim yang menang, tapi hanya dua tim yang berhak ke tingkat Asia dan kebetulan dari Surabaya semuanya,” tambahnya. Tim pertama adalah dirinya, Liviawaty, dan Citra Limanto yang menggagas desain kemasan produk madu Sumber Podang dari Kediri. Untuk tim kedua adalah Yohana Prasetio, Glaudia, dan Azalia yang menggagas desain kemasan makanan Rengginang mini.

Tyrza menambahkan “Kemasan atau packaging seringkali diabaikan oleh produsen skala menengah, karena itu kami merancang konsep desain yang cukup unik”. Tirza dkk merancang desain untuk etalase produk yang dibuat menyerupai pohon, seakan-akan konsumen langsung mengambil sendiri botol madu dari alam, kemudian memilih “shopping bag”. Selain bahannya ramah lingkungan, bahan yang ada juga dapat melindungi botol kaca madu dari bantingan. Tutup madunyapun dibuat secara khusus untuk memudahkan konsumen dalam menuangkan madu agar tidak tercecer.

Lain halnya dengan karya desain Glaudia dkk. “Kami ingin makanan tradisional dikemas secara eksklusif tapi dengan harga terjangkau bagi para pengusaha agar makanan rengginang mini ini dapat diekspor ke luar negeri,” terang Glaudia. Menurutnya, pengusaha umumnya menggunakan plastik sebagai kemasan, namun dirinya dkk menggunakan kemasan karton berbentuk kotak memanjang ke atas yang mudah dibuka-tutup sehingga produknya tetap terjamin kualitasnya sampai di tempat tujuan. Dengan kemasan tersebut, memungkinkan rengginang untuk dijadikan souvenir, tidak seperti biasanya yang hanya dimasukkan dengan tas plastik.


Sumber: Indonesia Kreatif

Thursday, 26 November 2009

Best Young Engineer dari Indonesia


Muhammad Agung Bramantya, seorang putra bangsa Indonesia, kembali menorehkan sebuah sejarah yang dapat mengharumkan nama bangsa di dunia internasional. Ia mendapatkan penghargaan “Young Engineer Award” dari Japan Society of Applied Electromagnetics and Mechanics (JSAEM).

Acara penganugerahan bagi ilmuwan berprestasi, karya ilmiah terbaik, dan riset kolaborasi industri teraplikasi ini sendiri merupakan acara tahunan dari JSAEM. Tahun ini, acara tersebut diselenggarakan pada tanggal 19 November 2009 malam bersamaan dengan puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 yang diselenggarakan di Tokyo City University, Tokyo, Jepang.

Muhammad Agung Bramantya yang biasa dipanggil mas Bram ini merupakan satu-satunya warga negara asing di antara deretan warga Jepang yang meraih penghargaan tersebut. Sebagai warga negara Indonesia, kita boleh cukup berbahagia dan bersyukur, bukan?! :)

Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) yang kini tengah menempuh S3 di Keio University tersebut mendapatkan penghargaan karena karya ilmiahnya yang berjudul “Ultrasonic Study on the Clustering Structures of Magnetorheological Fluids Under a Uniform Magnetic Field” berhasil dimuat di Jurnal Ilmiah terbitan JSAEM. Karya ilmiah tersebut mendapatkan penilaian yang luar biasa (outstanding academic paper) dari para dewan juri.

Mas Bram bercerita bahwa karya ilmiah tersebut berhasil menjelaskan fenomenda dasar berupa clustering partikel pada cairan pintar/smart fluid yang dinamakan magnetorheological fluid dengan metode ultrasonic. Selain itu, Mas Bram juga mengungkapkan harapannya agar kuantitas dan kualitas rekan-rekan akademisi dari Indonesia yang mau menekuni bidang magnetohydrodynamics terus meningkat sehingga bisa memberikan manfaat lebih luas bagi bangsa Indonesia.

Referensi: KabarIndonesia

Sunday, 15 November 2009

Dokter Anak Terbaik Dunia dari UGM


Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) menerima penghargaan internasional sebagai dokter spesialis anak terbaik dari Asosiasi Dokter Anak Asia-Pasifik atau APPA. Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award tersebut diterimanya akibat prestasi-prestasinya yang dianggap menonjol dalam penelitian mengenai penyakit diare pada anak selama tiga tahun terakhir. Penghargaan diberikan dalam konferensi APPA di Shanghai, China, yang berlangsung pada tanggal 4 – 18 Oktober 2009.

Penghargaan Outstanding Asian Pediatric Award sendiri diberikan setiap tiga tahun sekali. Pada tahun ini, Prof. dr. Sri Suparyati, Sp.A.(K), Ph.D. menjadi salah satu dari 12 dokter anak yang menerima penghargaan. Dan mereka pun telah dipilih dari 2.500 dokter anak se-Asia Pasifik.

Penghargaan tersebut merupakan buah dari perjuangannya selama 40 tahun dalam meneliti penyakit diare pada anak. Bersama Prof. Ruth Bishop dari Australia, ia meneliti infeksi yang disebabkan oleh rotavirus pada penderita diare di Indonesia. Penelitian ini menemukan hasil yang mengejutkan bahwa ternyata rotavirus lah yang menjadi penyebab utama penyakit diare di Indonesia.

Ia mengatakan sebagian besar bayi penderita diare yang disebabkan rotavirus memiliki kualitas hidup yang rendah. Bayi mengalami muntah secara terus-menerus, berak air, dan susah mengonsumsi makanan. Usus halusnya pun tak dapat berfungsi dengan baik.

Hasil penelitian tersebut pada akhirnya mengubah terapi pengobatan

Penemuan ini mengubah terapi pengobatan diare yang sebelumnya lebih banyak menggunakan antibiotik. Hasil penemuan tersebut pada akhirnya mendorong Pemerintah Indonesia untuk memproduksi vaksin rotavirus dengan harga yang cukup murah. Sebab, vaksin diare yang ada selama ini relatif mahal. Bekerja sama dengan Melbourne University dan PT Biofarma, vaksin tersebut direncanakan akan dipasarkan mulai tahun 2012 di Indonesia.

Tuesday, 10 November 2009

Robot Indonesia Berjaya di Olimpiade Dunia


Fantastis !! Ternyata, Indonesia masih menyimpan banyak mutiara terpendam yang pasti akan indah berkilau jika diasah dengan baik. Kali ini, sinar mutiara tersebut berasal dari anak-anak muda Indonesia yang berhasil membawa kejayaan dari ajang Olimpiade Robot Dunia 2009 (World Robot Olympiad/WRO) di Korea Selatan, 6-8 November 2009.

Tim Indonesia berhasil meraih juara kedua dan ketiga tingkat Junior (SLTP) Regular Category. Paula Agusta, Humas dan Promosi Mikrobot mengatakan bahwa prestasi tersebut merupakan hasil terbaik yang diperoleh Indonesia sejak mengikuti WRO pertama kali pada tahun 2004. Dan, Indonesia pantas bersyukur karena berhasil merebut tempat kedua serta ketiga setelah mengalahkan lebih dari 1.000 peserta dari 24 negara di seluruh dunia.

Kompetisi WRO sendiri terbagi dalam dua kategori, yakni Regular Category dan Open Category. Dalam Regular Category, peserta diminta untuk merakit sebuah robot dalam menyelesaikan suatu tantangan tertentu. Sedangkan, dalam Open Category, peserta bebas merakit robot menurut tema tertentu dan mempresentasikannya di hadapan para juri.

Indonesia mengirimkan total tujuh tim untuk berlaga di ajang WRO 2009. Dan, semuanya merupakan peserta pada Regular Category. Untuk tingkat Junior (SLTP), tim Creator dari Indonesia yang terdiri dari dua anak perempuan cerdas, Ivy Icasia serta Patricia Dissy Andrea, berhasil menempati tempat kedua. Sedangkan, tim Alpha-Rex yang terdiri dari Billy Hocker Wistan serta Fernando berhasil menjadi juara ketiga. Tim Indonesia yang bertanding pada tingkat Primary (SD) juga meraih hasil yang cukup memuaskan. Tim Innocent (Kelvin Onggadinata dan Margaretha Hutabarat) berhasil menempati peringkat lima, di bawah Chinese Taipei (juara 1), Korea (juara 2), dan Singapura (juara 3).

Benar-benar prestasi yang menggembirakan. Semoga ke depannya, anak-anak tersebut terus mendapatkan bimbingan yang tepat agar dapat terus mengembangkan potensinya dan membuat sesuatu yang bermanfaat bagi negara.

Sunday, 8 November 2009

Mengembangkan Penemuan untuk Dunia

BADAN Pengkajian dan Penerapan Tekonologi (BPPT) meluncurkan sistem penerjemah lisan berbasis jaringan internet dalam sembilan bahasa Asia Pasifik, yakni bahasa Indonesia, Jepang, China, India, Korea, Thailand, Vietnam, dan Singapura, ditambah bahasa Inggris. Jaringan penerjemah ini dikembangkan untuk memudahkan komunikasi antar bangsa, hal itu diungkapkan Kepala Balai Ipteknet BPPT Dr Hammam Riza di Jakarta, Rabu.

Alat canggih ini mampu mengkomunikasikan bahasa penggunanya dengan bahasa orang yang sedang berkomunikasi. Percakapan memang menggunakan komputer sebagai medianya yang di layar terlihat seperti dialog dengan menggunakan bahasa sehari-hari seperti "chatting" atau "messenger". Pada layar komputer tertulis huruf masing-masing bahasa peserta percakapan tersebut. Lalu, dari pengeras suara komputer keluar suara yang menerjemahkan kalimat bahasa asing yang dikirimkan lawan bicara yang berada di negara lain itu.

Program ini memang sedang diujicobakan, namun jika sudah stabil direncanakan akan dikomersilkan dan dapat diinstal di laptop, PDA, atau smartphone yang memang telah dilengkapi dengan speaker dan mikrofon. Ada tiga teknologi yang digunakan dalam penerjemahan itu, yakni, pengenal suara (ASR), mesin penerjemah (MT), dan pensintesa suara (SS) serta perangkat interkoneksi berupa "Speech Translation Markup Language" (STML) web server.

Jaringan itu disusun oleh konsorsium "Asian Speech Translation Advanced Research Consortium" (A-STAR). Dalam konsorsium itu, Indonesia diwakili BPPT, Jepang (NICT/ATR), Korea (ETRI), Thailand (NECTEC), China (NLPR-CASIA), India (CDAC), Vietnam (IOIT) dan Singapura (I2R). Ke-8 lembaga itu bekerja sama menggabungkan bahasanya masing-masing, menciptakan sistem pengenalan suara, mesin penerjemah, pesintesa suara, membangun modul web service penerjemah bahasa dan menciptakan standard dan format data dan menghubungkannya melalui jaringan internet. Sistem ini bisa menggantikan peran notulensi, mengubah pembicaraan menjadi suatu teks tertulis. Walaupunmesin sejenis ini sudah ada di Jepang, tapi yang dimiliki BPPT merupakan yang pertama di Indonesia.

Sebuah penemuan yang diharapkan mampu memberikan jembatan komunikasi bagi sebagian penduduk dunia, sehingga layaklah jika hasil kerja para peneliti yang ada di BPPT diacungkan jempol, karena lewat sistem penerjemah ini, bangsa-bangsa di dunia mampu berkomunikasi dengan bahasanya sendiri. Hasil usaha anak bangsa ini memang harus diapresiasikan, untuk membuktikan bahwa bangsa Indonesia tidak kalah dengan bangsa lain dalam menemukan alat yang sangat dibutuhkan masyarakat dunia.

Penemuan untuk kemaslahatan orang banyak memang sangat dibutuhkan. Untuk itu diperlukan kerja keras semua pihak dalam hal ini pemerintah dalam mendukung apa yang dilakukan para peneliti kita di BPPT ini. Jika dilihat dari penemuan ini paling tidak pemerintah Indonesia turut berbangga karena putra-putrinya mampu menemukan alat yang bisa menjalin persahabatan antara bangsa di dunia ini. Pemerintah tidak hanya memberikan dukungan dana semata saja tetapi juga harus mampu mengembangkan penemuan-penemuan lainnya.

Dari sisi penemuan yang telah dilakukan putra-putri terbaik bangsa ini, sebenarnya tidaklah patut diragukan. Banyak hal yang telah dilakukan putra-putri terbaik kita dari sisi penelitian dan penemuan. Namun sayang banyak penemuan-penemuan anak bangsa tersebut tidak atau belum dapat dikembangkan mengingat persoalan dana yang sangat minim terhadap lembaga-lembaga peneliti yang ada. Maka sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian lebih untuk mengembangkan potensi ini.

Friday, 6 November 2009

Joko Sasmito Penemu Biochip Kedokteran


Ilmu pengetahuan mampu menjelaskan hal-hal yang semula dianggap tak mungkin menjadi mungkin. Melalui ilmu pengetahuan pula Joko Sasmito berhasil menciptakan biochip, yang dalam perkembangannya sangat bermanfaat bagi dunia kedokteran. Semua berawal dari Siklus Kaifa.

Sejumlah produk teknologi yang bermanfaat untuk kesehatan telah dibuatnya bersama kelima anaknya. Alat-alat ini antara lain pengetes gelombang otak, pengetes emosi diri, pengetes penyakit kanker getah bening dan kanker hati, magnetic resonance imaging (MRI), alat pemeriksa saraf, otot, dan jantung, serta modem.

Produk yang disebut terakhir ini belakangan direncanakan untuk diproduksi dalam jumlah lebih banyak. Produk ini sendiri merupakan hasil penelitian selama delapan tahun oleh keluarga Joko bersama sejumlah tetangga yang tergabung dalam santri Isiteks (Islam Teknologi dan Seni) di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penemuan-penemuan teknologi di bidang kedokteran ini sebenarnya bukanlah tujuan awal Joko. Mantan Dosen Kimia di Universitas Gadjah Mada ini bersama sejumlah santri semula bermaksud menciptakan alat-alat elektronik mini yang dapat menghemat ruang.

Dalam perkembangan kegiatan penelitiannya, Joko malah lebih dulu berhasil menciptakan biochip sebagai alat pengetes kesehatan tubuh, yang sangat bermanfaat di bidang kedokteran, serta biochip sebagai alat terapi.

Biochip adalah benda organik sebagai materi inti. Ramuan dari sari hewan dan tumbuhan ini diracik hingga menjadi hanya seberat kurang dari satu gram, lalu dilekatkan pada lempengan kecil kawat, dan disambungkan oleh media penghantar berupa lembaran-lembaran kabel. Alat ini berbeda dengan biochip-biochip lain yang, meski juga dibuat sebagai hasil teknologi, bahan utamanya dari anorganik.

Pada setiap kegiatan pengecekan dan terapi kesehatan terhadap pasien-pasiennya, Joko mentransfer materi inti pengobatan ini lewat gelombang (udara maupun listrik), disalurkan ke tubuh penderita.

Hantaran energi melalui gelombang ini pada tahap berikutnya, memampukan Joko mengobati pasien secara jarak jauh. Dengan menggunakan telepon biasa ataupun seluler, pengobatan yang berpusat dalam sistem komputer di rumahnya akan dihantar masuk ke pasien melalui gelombang.

”Saya berpikir bahwa ilmu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dan, bentuk pengobatan ini sangat dapat dijelaskan secara ilmiah,” tuturnya.

Empat dalil
Kita mungkin akan tak percaya bagaimana terapi biochip yang ditransfer lewat gelombang bisa menyembuhkan seseorang. Namun, Joko dapat menjelaskan secara ilmiah atas setiap produk temuannya.

Teori Siklus Kaifa menjadi dasar untuk setiap penemuan ini. Siklus ini mengacu pada salah satu ayat dalam sebuah surat di Al Quran. Ayat ini diterjemahkan menjadi empat dalil, yaitu adaptasi, filter, kecocokan, dan nilai integrasi. Setiap uji coba yang dilakukannya melalui empat dalil tersebut dan akhirnya menghasilkan karya chip non-bio. Namun, dalam perkembangannya, dia mengkreasikan chip dengan racikan bahan-bahan organik.

Tujuan Joko adalah supaya racikan bahan biochip ini tidak dapat ditiru tanpa harus dipatenkan. Kelebihan biochip ini adalah memiliki kepekaan lebih tinggi dalam mendeteksi suatu penyakit.

Joko mendidik lima anaknya untuk menjadi peneliti sekaligus penemu di bidang iptek meski mereka harus keluar dari sekolah formal. Ida Saraswati (23), anak pertama, kini telah membuat banyak perangkat lunak atau software dan Dika Sistrandari (21), Agus Siklawida (16) serta Tifa Siklawati (11) sebagai pembuat komponen data atau hardware. Adapun kemampuan membuat biochip diturunkan kepada anak ketiganya, Sikla Estiningsih (19).

Menurut Joko, merupakan pergumulan besar saat harus memberi pilihan bagi anak-anaknya untuk bersekolah formal atau belajar padanya. Saat anak-anak ini memutuskan untuk belajar pada Joko dan keluar dari sekolah masing-masing, tumbuh kesadaran akan konsekuensi bahwa kelimanya takkan memiliki ijazah pendidikan. ”Memang ada konsekuensi atas setiap pilihan,” tutur Sikla, anak ketiga.

sekitar pertengahan bulan Januari, Joko tengah sibuk mengurusi salah seorang pasiennya yang sakit kritis. Hasil identifikasi biochip yang terpampang lewat komputer menunjukkan pasien tersebut mengidap penyakit kanker hati.

Komputer lainnya dipakai mendeteksi gerak jantung yang melambat, juga melalui biochip. Lalu, sebuah biochip lagi dipasang untuk menurunkan tingkat entropi (kerentaan fungsi organ). ”Kalau sudah kondisi darurat, kami harus gerak cepat menolong pasien,” tuturnya

sumber : http://www.tokohindonesia.com/ensikl...to/index.shtml

Penemuan Kompor Unik dengan bahan bakar sampah (Karya Anak Bangsa)

KOMKA “Kompor Keluarga Amanah” (HRP 2009)

Kompor adalah elemen penting dalam proses masak. Bahan bakarnya beragam. Bisa gas, minyak tanah, parafin, dll. Tapi komka atau kompor keluarga amanah) ini unik karena bahan bakarnya sampah. Kok bisa?

KOMKA ditemukan Heru Permono. Ia memproduksi kompor di Berco Mandiri Wijaya (BMW) Jalan TPA Pondok Rajeg 99. Dari bengkel ini dia menawarkan komka Rp129.000 per unit. Hasilnya, peminat kompor ini mulai berdatangan. Bahkan dari luar pulai. “Seluruh pulau Jawa sudah berminat mulai Jabar hingga Jatim dan Madura. Bahkan Kalimantan dan Sulawesi sudah memesan,” jelasnya.

[14102009516.jpg]

Saat ditemui di Bogor Cooperative Expo 2009, pria berkumis ini semangat bercerita bagaimana ia bisa menciptakan komka. Dua tahun lalu, ia tergelitik ingin membantu masyarakat agar punya kompor yang bahan bakarnya tak perlu mahal. Eksplorasinya berawal dari material kompor seperti seng, kaleng, plat acer (besi plat) hingga baja. “Paling cocok ternyata plat galvanis karena mempunyai kemampuan yang memadai,” jelasnya.

Ia mencoba bahan bakar berupa sampah rumah tangga. Mulai plastik, kertas, kayu, ranting kecil hingga sayuran. “Suhu sampah harus stabil dan tidak basah. Suhu kompor di dalam bisa mencapai 600 derajat,” katanya. Meski bahan bakarnya sampah, rasa makanan yang dimasak tidak terpengaruh.

[14102009517.jpg]

Cara menyalakan kompor ini unik. Masukkan ranting kecil kering, lalu plastik dan limbah kertas. Nyalakan kertas, lalu masukkan ke dalam kompor. Bila ingin lebih panas, tambahkan material lebih banyak. “Kalau ingin mematikan cukup hentikan semua tambahan bahan bakar, api akan mati sendiri,” urainya.

Semula butuh waktu seminggu untuk menghasilkan satu unit kompor komka. Namun kini pihaknya berhasil meningkatkan produksi hingga 500 unit per bulan. Bahkan target berikutnya meningkatkan produksi hingga 1.000 unit sehari. Tentunya dengan kerjasama pihak swasta.

“Saat ini masih menggunakan mesin semi masinal, jadi produksi terbatas. Rencananya akan dibuat 500-1.000 unit dalam sehari. Targetnya 5-6 bulan ke depan,” pungkasnya

sumber : http://www.radar-bogor.co.id

[14102009518.jpg]

TENTANG PRODUK

Kompor Alterntif Masyarakat Indonesia
BERBAHAN BAKAR LIMBAH : Ranting kayu, Plastik, Kertas, Daun, Rumput dan limbah rumah tangga lainnya, namun nyala api dan suhu yang dihasilkan sangat luar biasa (stabil) sampai dengan 600 derajat.

Komka HRP 2009 :

Merupakan kompor yang dirancang secara khusus sebagai kompor alternatif pengganti kompor minyak tanah yang paling tepat pada saat ini dikarenakan Hemat, Aman (Anti Meledak), Efisien, Serbaguna, Ekonomis dan Ramah Terhadap Lingkungan, kompor ini cocok seperti ibu rumah tangg, pecinta alam, berkemah, para petani untuk digunakan disawah atau dikebun serta para nelayan untuk melaut.

PETUNJUK PENGGUNAAN KOMPOR INI (KOMKA HRP 2009)

Masukkan beberapa potongan limbah kayu (ranting) dengan ukuran 5-10 cm, limbah plastik dan kertas ke dalam KOMKA HRP 2009 lalu Nyalakan kertas yang telah dimasukkan ke dalam KOMKA HRP 2009 tunggu beberapa saat awal pengapian menghilang baru letakkan alat masak

kompor ini memiliki keunikan dibanding dengan kompor2 yang pernah ada sebelumnya, karena Api yang dihasilkan tidak nampak dipermukaan alat masak dan tidak mengepulkan Asap.

Wednesday, 4 November 2009

Mondialogo Engineering Award 2008/2009


Mondialogo Engineering Award merupakan ajang penghargaan dan forum terbesar untuk meningkatkan kerja sama dan dialog antarbudaya di antara mahasiswa teknik sedunia yang diinisiasi oleh UNESCO dan Daimler AG sejak tahun 2003.

Di tahun ini, untuk ketiga kalinya Mondialogo Engineering Award diadakan, selama kurang lebih satu tahun para mahasiswa dari berbagai negara maju dan berkembang mengerjakan proposal proyek untuk membantu pencapaian United Nations Millenium Development Goals dengan memfokuskan pada mitigasi perubahan iklim, pengentasan kemiskinan serta pembangunan yang berkelanjutan. Dari 60 mahasiswa penerima penghargaan yang berasal dari 28 negara, terdapat tiga orang mahasiswa Indonesia. Ketiga mahasiswa Indonesia berprestasi tersebut adalah:

Benny (Universitas Gajah Mada) meraih medali Emas dengan proyek Zero Waste Production System in Small / Medium Industrial Cluster.

Fengky Satria Yorestra (Universitas Andalas) meraih medali Perak dengan proyek Evacuation Infrastructure from Tsunami for Coastal Communities in West Sumatera.

Nanang Sugianto (Universitas Udayana) meraih medali perunggu dengan proyek Development of a Transportable Bioreactor for Anaerobic Treatment. (Sumber: Antara)

Mahasiswa IPB Temukan Mikroba ‘Google’ Penyubur Tanah

Mahasiswa IPB Temukan Mikroba ‘Google’ Penyubur Tanah

BOGOR–Ali Zum Mashar, seorang mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), berhasil menemukan mikroba yang dapat mengembalikan kondisi kesuburan tanah. Berkat penemuannya tersebut, Mahasiswa S3 program studi Ekonomi Sumber Daya Lingkungan ini memperoleh penghargaan Hak kekayaan Intelektual Luar Biasa tahun 2009.

Mikroba yang diberi nama BIOP 2000Z ini, kata Ali, mempunyai prinsip kerja yang cukup unik. “Mikroba ini dapat mencari dan menemukan potensi tersembunyi yang ada di dalam tanah. Jadi kayak google (mesin pencari situs di internet, red) gitu,” ucapnya kepada wartawan, Kamis malam (29/10).

Dengan memberdayakan mikroba ini, ujar Ali, tanah yang berpasir pun dapat disuburkan. “Segala jenis tanah dapat disuburkan kembali. Meskipun tanah itu tanah bekas tambang, tanah berpasir, atau tanah gambut,” katanya.

Waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan kondisi tanah-tanah tersebut pun, ujar Ali, terbilang cukup singkat. Jika dengan menggunakan metode konvensional, sebidang tanah bekas tambang membutuhkan waktu tak kurang 30 tahun untuk subur kembali, tak demikian jika menggunakan mikroba ‘google’ ini. “Untuk tanah bekas tambang, hanya butuh 3 tahun untuk mengembalikan kondisi tanah menjadi subur kembali,” jelasnya.

Hal ini, kata Ali, sudah pernah diujicobakan di daerah Kerengpangi, Kalimantan Tengah. Dengan menggunakan 3 liter mikroba untuk tiap hektarnya, Kerengpangi yang merupakan tempat penambangan emas dapat disuburkan kembali. Sedangkan untuk tanah berpasir, membutuhkan waktu yang lebih singkat. Dengan menggunakan mikroba sebanyak 8 liter per hektarnya, untuk mengembalikan kesuburan tanah hanya butuh waktu 3 sampai 4 bulan. ”Dengan pemakaian mikroba ini, juga dapat menghemat pemakaian pupuk,” cetus Ali.

Lebih jauh Ali menuturkan, setiap tanah pasti mempunyai keunggulan masing-masing. “Pasti ada, tak mungkin tidak,” kata dia. Ditambah lagi, kondisi iklim tropis di Indonesia. Dengan adanya iklim tropis, semakin menambah potensi kesuburan tanah yang ada di Indonesia.

Ali mengatakan, penemuan mikroba ‘google’ ini terjadi pada tahun 2000 di lahan gambut di Kalimantan. Ali yang juga pernah bertransmigrasi ke Kalimantan ini mengatakan, mengenai efek samping dari pemakaian mikroba ini, hanya meningkatkan kesuburan tanah. ”Tidak ada efek negatif dari pemakaian mikroba ‘google’ ini,” jelasnya.

Tak hanya menyuburkan tanah, ujar Ali, beberapa pengujian telah membuktikan terdapat peningkatan produktivitas tanaman pertanian. Alumni S1 pertanian Unsoed Purwokerta Jawa Tengah, ini mengatakan mikroba tersebut telah diuji di beberapa tanaman, antara lain adalah kedelai dan jagung.

Saat ini, ungkap Ali, mikroba ini telah berhasil merambah pasaran dalam negeri dan luar negeri. “Petani di Jawa Timur dan Jawa Tengah telah banyak yang menggunakan mikroba ini,” katanya. Tak hanya itu, Malaysia dan Australia turut mengimpor mikroba ‘google’. Saat ini, mikroba ‘google’ ini dipasarkan oleh PT Alam Lestari sebagai fabrikator induk.

Tak membutuhkan lama bagi Ali untuk mematenkan mikroba ‘google’ miliknya ini. Saat ini, mikroba ‘google’ telah mendapatkan empat lisensi paten dari WIPO, sebuah lembaga paten yang berdomisili di Swedia. “Teknologi turunan dari mikroba ini juga akan kami patenkan,” tegasnya. c13/eye

Monday, 12 October 2009

Alex Kawilarang W Masengi: Penemu Kapal Ikan Bersirip


Doktor dari The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang (1993), ini adalah penemu teknologi kapal ikan bersirip. Temuan pria bernama lengkap Prof Dr Ir Alex Kawilarang Warouw Masengi MSc kelahiran Desa Kinilou, Tomohon, 13 Juni 1958, ini sudah dipatenkan di Jepang.



Suami dari Ixchel Peibie Mandagie MSi (juga dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat), ini diilhami ikan terbang dalam menemukan teknologi perkapalan tersebut. Ikan itu dapat terbang jauh bagaikan pesawat udara yang melayang rendah di atas permukaan air laut.



Dia tertarik ketika mengamati bentuk tubuh dan sirip ikan terbang antoni (torani). Ikan itu dapat melayang di atas permukaan air laut. Tubuhnya terangkat melalui pergerakan sirip yang relatif panjang dan dorongan pergerakan tubuhnya sendiri.



Pakar teknik perkapalan perikanan, ini mengamati ikan antoni memiliki bentuk tubuh yang relatif unik, mulai dari kepala, badannya yang montok, pergelangan ekornya serta seluruh siripnya.



Bentuk tubuh dan sifat-sifat khas ikan antoni itulah yang ia terapkan ke dalam desain badan kapal ikan, berikut pemasangan sirip pada bagian lambung kapal. Hasilnya, tingkat kestabilan kapal ikan relatif menjadi lebih tinggi apabila dibandingkan dengan jenis kapal ikan lain.



Sejumlah pengkajian dan uji coba stabilitas kapal ikan yang menggunakan sirip ini sudah dilakukannya sejak 16 tahun terakhir. Pengkajian dan pengujian dilakukan di Laut Cina Timur, Teluk Ohmura Nagasaki, perairan Jepang Timur, Teluk Manado dan perairan di sekitar Kota Bitung. Hasilnya, stabilitas kapal ikan bersirip rata-rata melebihi kapal ikan biasa.

Selain itu, pengujian laboratorium juga dilakukan di beberapa laboratorium ternama, seperti Laboratorium kapal ikan di Fakultas Perikanan Hokkaido University, Japan Fisheries Engineering Laboratory, Faculty of Ship Building Soga University, Nagasaki.

Hasil pengujian stabilitas terhadap kapal ikan tipe sabani dari Okinawa dengan menggunakan sirip dalam kondisi statis meningkat 17 persen. Adapun saat kapal dalam kondisi dinamis atau bergerak, tingkat stabilitasnya naik menjadi 22 persen.

Metode yang sama, diujicobakan pula pada beberapa kapal ikan tipe pamo yang biasa digunakan para nelayan Sulawesi Utara, baik dalam ukuran nyata maupun dalam skala model. Dari hasil pengujian diperoleh hasil stabilitas kapal pamo dalam kondisi statis meningkat 19 persen dan dalam kondisi dinamis meningkat 28 persen.

Berdasarkan semua pembuktian itu, temuan teknologi kapal ikan bersirip yang desainnya didasarkan pada bentuk tubuh ikan antoni itu, Alex mematenkan atas namanya sendiri di Jepang.



Sebuah perusahaan galangan kapal di Jepang saat ini sedang bersiap memproduksi massal kapal-kapal ikan bersirip yang didasarkan pada model atau teknologi temuan Alex itu. Makanya, di Jepang namanya tercatat sebagai anggota konsultan pembuatan kapal Nagasaki Dream, dan konsultan pembuatan kapal layar Michinoku-Indonesia. Juga menjadi konsultan teknik pada Reedbed Technology, Liverpool, Inggris.


Alex secara rutin juga menjadi pembicara dan dosen tamu pada berbagai universitas di Jepang dan Perancis. Dia juga sering menyampaikan makalah ilmiah di berbagai universitas ternama di Jepang, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat.


Alex tumbuh di dalam keluarga petani. Ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan pertanian di kaki Gunung (api) Lokon, Desa Kinilou, Tomohon, Sulawesi Utara. Ia akrab dengan pertanian palawija, hortikultura,serta budidaya tambak air tawar. Sehingga ahli kelautan ini tetap cinta alam pegunungan.

Rumahnya yang sederhana dikelilingi tambak atau telaga lengkap dengan budidaya ikan mas dan mujair. Di bagian depan rumah tampak beberapa rumpun pohon bambu yang ikut menambah semarak lingkungan rumahnya.



Ayah empat anak, yaitu Kesihi, Shinji, Etsuko dan Akira, ini bahkan memanfaatkan lokasi rumahnya di alam pegunungan yang sejuk sebagai tempat pertemuan para dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Ia sering menerima tamu di rumahnya yang dikelilingi tambak air tawar itu.

Alex menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di Desa Kinilou pada tahun 1971, kemudian melanjutkan ke sekolah teknik pertama dan lulus tahun 1974. Selanjutnya ia meneruskan pendidikan di Sekolah Usaha Perikanan Menengah di Manado dan lulus pada 1977.

Setelah sempat bekerja di sebuah perusahaan perikanan, Alex melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Perikanan Unsrat dan lulus tahun 1984. Ia mengikuti program master di Faculty of Fisheries Nagasaki University pada tahun 1990 dan meraih gelar doktor di The Graduate School of Marine Science and Engineering Nagasaki University, Jepang, tahun 1993.

Selain aktif dalam dunia pendidikan, Alex juga dikenal luas di Sulawesi Utara karena aktivitasnya di berbagai organisasi pemuda. Antara lain,dia tercatat sebagai Wakil Ketua Komisi Pemuda GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), salah satu gereja terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Ia juga menjadi anggota tim akademisi muda Unsrat yang aktif menjelaskan posisi, visi, dan misi Unsrat ke depan.

Liem Tiang Gwan: Ahli Radar Dunia, Putera Indonesia


Liem Tiang Gwan, putera Indonesia kelahiran Semarang, 20 Juni 1930, ini seorang ahli Radar (radio detection and ranging)yang mendunia. Radar rancangannya banyak digunakan untuk memantau dan memandu naik-turunnya pesawat di berbagai belahan dunia. Bahkan militer di banyak negara Eropa menggunakan jasanya untuk merancang radar pertahanan yang pas bagi negaranya.



Liem Tiang-Gwan, sudah puluhan tahun bergelut dan malang melintang dalam dunia antena, radar, dan kontrol lalu lintas udara. Namanya sudah mendunia dalam bidang radar, antena, dan berbagai seluk-beluk sistem gelombang elektromagnetik yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak, dan membuat peta benda-benda, seperti pesawat, kendaraan bermotor, dan informasi cuaca.


”Sekolah saya dulu berpindah-pindah. Saya pernah di Jakarta, lalu di Taman Siswa Yogyakarta, kemudian menyelesaikan HBS (Hoogere Burgerschool) di Semarang tahun 1949. Setelah itu, saya masuk Institut Teknologi Bandung dan meraih sarjana muda tahun 1955. Saya melanjutkan studi di Technische Universiteit (TU) Delft, lulus tahun 1958,” ujar pria yang kini bermukim di kota Ulm, negara bagian Bavaria, Jerman.

”Lalu saya ke Stuttgart dan bekerja sebagai Communication Engineer di Standard Elektrik Lorenz, yang sekarang dikenal dengan nama Alcatel,” kata Liem.


Meskipun sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang lumayan, Liem muda masih berkeinginan untuk kembali ke Tanah Air. Ia masih ingin mengabdikan diri di Tanah Air. Maka, tahun 1963 ia memutuskan keluar dari tempatnya bekerja di Stuttgart dan kembali ke Indonesia. ”Apa pun yang terjadi, saya harus pulang,” ujarnya mengenang.


Hidup berubah
Niat untuk kembali ke Tanah Air sudah bulat. Barang-barang pun dikemas. Seluruh dana yang ada juga dia bawa serta. Liem muda menuju pelabuhan laut untuk ”mengejar” kapal yang akan menuju Asia dan mengantarnya kembali ke Tanah Air. Kapal, itulah sarana transportasi yang paling memungkinkan karena pesawat masih amat terbatas dan elitis.


Namun, menjelang keberangkatan, Liem mendapat kabar bahwa Indonesia sedang membuka konfrontasi dengan Malaysia. Karena itu, kapal yang akan ditumpangi tidak berani merapat di Tanjungpriok, Jakarta. Kapal hanya akan berlabuh di Thailand dan Filipina. Maka, bila Liem masih mau kembali ke Indonesia, ia harus turun di salah satu pelabuhan itu.


”Saat itu saya benar-benar bingung. Bagaimana ini? Ingin pulang, tetapi tidak bisa sampai rumah, malah terdampar di negeri orang. Saya memutuskan untuk membatalkan kepulangan. Seluruh koper dan barang bawaan diturunkan lagi, padahal saat itu uang sudah habis. Tetapi dari sinilah, seolah seluruh hidup saya berubah. Saya kembali lagi bekerja di Stuttgart sebagai Radar System Engineer di AEG-Telefunken. Perusahaan ini sekarang menjadi European Aeronautic Defence and Space (EADS),” katanya.


Sejak itu, karier Liem di bidang gelombang elektromagnetik dan dunia radar semakin berkibar. Setelah bekerja di EADS, ia diminta menjadi Kepala Laboratorium Radarsystem-theory tahun 1969-1978, disusul kemudian Kepala Seksi (bagian dari laboratorium), khusus menangani Systemtheory and Design, untuk sistem radar, pertahanan udara, dan Sistem C3 (Command Control Communication). Sebelum pensiun pada tahun 1995, Liem masih menjabat sebagai Kepala Departemen Radar Diversifications and Sensor Concepts.


”Meski sudah pensiun, hingga tahun 2003 saya masih diminta menjadi consulting engineer EADS,” tambahnya.


Paten
Perannya yang amat besar dalam bidang radar, sensor, dan gelombang elektromagnetik membawa Liem untuk mematenkan sejumlah temuannya. Puluhan temuannya diakui berstandar internasional, kini sudah dipatenkan.


”Yang membuat saya tergetar, ketika menyiapkan Fire Control and Battlefield Radars, Naval Fire Control Radar dan sebagainya. Ini kan untuk perang dan perang selalu membawa kematian. Juga saat saya merancang MSAM Systems: Hawk Successor; Airborne High Vision Radar dan sebagainya,” kata Oom Liem.


Dia menambahkan, ”Saya sendiri sudah tidak ingat lagi berapa rancangan radar, antena, dan rancangan sinyal radar yang sudah saya patenkan. Itu bisa dibuka di internet.”
Indonesia


Secara sederhana, ilmu tentang elektro yang pernah ditekuni selama belajar, coba dikembangkan oleh Om Liem. Dalam sistem gelombang radio atau sinyal, misalnya, ketika dipancarkan, ia dapat ditangkap oleh radar, kemudian dianalisis untuk mengetahui lokasi bahkan jenis benda itu. Meski sinyal yang diterima relatif lemah, radar dapat dengan mudah mendeteksi dan memperkuat sinyal itu.


”Itu sebabnya negeri sebesar Indonesia, yang terdiri dari banyak pulau, memerlukan radar yang banyak dan canggih guna mendeteksi apa pun yang berseliweran di udara dan di laut. Mata telanjang mungkin tidak bisa melihat, apalagi dengan teknologi yang semakin canggih, pesawat bisa melintas tanpa meninggalkan suara. Semua itu bisa dideteksi agar Indonesia aman,” tambah Liem.


Akan tetapi, berbicara mengenai Indonesia, Liem lebih banyak diingatkan dengan sejumlah kawan lama yang sudah sekian puluh tahun berpisah. ”Tiba-tiba saja saya teringat teman-teman lama, seperti Soewarso Martosuwignyo, Krisno Sutji, dan lainnya. Saya tidak tahu, mungkinkah saya bertemu mereka lagi?” ujarnya sambil menerawang jauh melalui jendela kaca di perpustakaan pribadinya.

Sunday, 11 October 2009

30+ Penemuan Doktor Indonesia Dipatenkan Diluar Negeri !


Dr Bambang Widiatmoko M.Eng.(47) adalah peneliti yang telah menghasilkan karya bermanfaat bagi masyarakat, dan diakui dunia internasional. Sayang, perhatian negara untuknya terkesan kurang.

Bisa dibayangkan rumitnya, bagaimana sebuah sinar, apalagi sinar laser, dapat dicacah menggunakan alat temuan Bambang.Temuan tersebut dinamakan Optical Frequency Comb Generator (OFCG), yakni pembangkit sisiran frekuensi optik.

Ini alat pencacah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan berbasis fiber optic. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai industri komunikasi di Jepang.

Berkat temuannya tersebut, akhir November tahun lalu Bambang diberi penghargaan berupa medali dari The Habibie Center (THC), yayasan yang bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bambang dinilai sangat berjasa sebagai peneliti teknologi, khususnya ilmu rekayasa.

Peran Bambang dalam ilmu perekayasaan memang cukup banyak. Apalagi, dalam penelitian sinar laser. Di mancanegara, Bambang dikenal sebagai pakar laser. Dia mengaku kerap dikontak para peneliti asing yang mengembangkan penelitian tentang laser.

Selama 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang, untuk program S-2 hingga doktor, pria kelahiran Boyolali itu mencatatkan 30 paten di Negeri Sakura tersebut. Kebanyakan berbasis laser. “Sebagian temuan saya juga saya daftarkan ke Amerika Serikat dan Eropa. Selain itu, masih ada temuan saya yang belum dipatenkan,” katanya. Karya terbesar Bambang adalah OFCG.

Menurut Bambang, dulu para peneliti sama sekali tak terpikir bagaimana mencacah sinar laser menjadi ribuan sinar baru. Sebab, memecah sinar adalah pekerjaan sulit. Bila satu sinar yang dipancarkan perlu satu transmitor, kalau memancarkan banyak sinar, tentu juga perlu banyak transmitor. “Dulu alat-alat yang dibutuhkan untuk memancarkan itu bisa sebesar ruangan ini,” ungkap Bambang sambil merentangkan tangan menunjuk luasnya ruangan sekitar 16 meter persegi itu.

Dia menggambarkan, betapa ribetnya mencacah sinar laser saat itu. Alat itu, lanjut Bambang, dibikin pada 2000, saat dia baru lulus doktor.

Bambang pun mencoba berinovasi. Empat tahun berselang, berkat ketekunannya, Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser yang hanya sebesar jari kelingking. Ini sebagai produk dasar. Dua tahun lalu dia menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara masal. Di tangan bapak dua anak itu, pemancar sinar tersebut disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K.

Bambang mengaku, temuannya itu terinspirasi oleh tiga peraih nobel fisika 2005. Mereka adalah Roy J Gluber, peneliti Harvard University; John L Hall, peneliti University of Colorado, dan Theodor W Hansch, fisikawan Max Planck dari Institut fur Quantenoptik Garching, Jerman. Dua nama terakhir merupakan karib Bambang dalam melaksanakan riset-riset fisika. ’’Rekayasa pencacah laser ini satu-satunya di dunia. Di Indonesia belum terpikir pemanfaatan alat tersebut,” ungkapnya.

Ketika masih di Jepang, Bambang memproduksi masal alat ciptannya tersebut. Bahkan, dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi (K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang. ’’Dulu saya sebagai perekayasa sekaligus pemasarnya,” jelasnya. Di perusahaan itu Bambang menjadi direktur.

Meskipun banyak uang mengucur ke kantongnya, pembawaan Bambang tetap sederhana. Dia tetap menyadari bahwa penelitian adalah fondasi hidupnya. Setelah balik ke tanah air tiga tahun lalu dan bekerja di laboratorium LIPI Serpong, Bambang perlahan melepaskan perusahaannya di Jepang.“Sekarang perusahaan itu sudah amat berkembang. Saya sudah lepas dari perusahaan. Tapi, kalau mau main-main ke Jepang tinggal kontak. Semua sudah disiapkan,” ujarnya.

Bambang mengaku amat terinspirasi dengan budaya orang Jepang. “Di Jepang itu banyak lab yang berdiri di ruko-ruko. Budaya penelitian di sana amat tinggi. Kalau di sini hanya pintar jual,” jelasnya.***

Bambang pernah juga menghasilkan karya besar lain, yakni pendeteksi tsunami berbasis laser. “Alat buatan saya itu kini sudah dimanfaatkan di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai,” paparnya. “Jadi, semua orang di daratan bisa mengantisipasinya,” katanya.

Bambang meyakinkan bahwa alat buatannya itu tak mudah hilang, seperti kasus alat pendeteksi tsunami di beberapa pantai di Indonesia. Kalau tak dihantam ombak, berita yang muncul dicuri nelayan yang usil.

Menurut Bambang, alat itu seperti tongkat yang ditanam di dasar laut. Sedangkan saat ini alat pendeteksi tsunami itu diapungkan dengan buoy. Apabila, buoy hilang dihantam ombak, lenyaplah alat tersebut.

Pria yang mengabdi di LIPI sejak 1987 itu pernah menawarkan temuannya itu ke Bappenas pada 2004. “Saya tunggu belum ada jawaban. Begitu saya kembali ke Jepang lagi, ternyata Aceh dihantam tsunami dahsyat itu,” ungkap lulusan FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja itu. Hingga kini, alat Bambang juga masih belum di pakai di Indonesia. Alat tersebut justru populer di Jepang.

Selain menemukan pendeteksi tsunami berbasis laser, Bambang telah menciptakan alat penghancur jarum suntik. Setelah menyuntik pasien, dokter tidak perlu membuang jarumnya ke tempat sampah. Cukup dimasukkan ke alat buatan Bambang, jarum akan melebur menjadi serbuk. Bakteri yang menghuni jarum tadi dipastikan mati. “Banyak alat serupa bikinan luar negeri. Tapi, banyak suster ketakutan, sebab alat itu memancarkan api,” jelasnya.source

Di Acara Kick Andy: Ditanyakan, apakah Dia menyesal kembali ke indonesia mengingat diluar negeri dia bisa mendapat penghasilan yg luar biasa besar(penghargaan yang juga besar tentunya)?

* beliau menjawab: "sedikit menyesal".

Wednesday, 7 October 2009

Baterai Singkong Bawa Siswa SD TMI jadi Jawara

BANDAR LAMPUNG--Singkong mempunyai banyak manfaat. Selain dikonsumsi, singkong juga dapat diolah menjadi etanol dan bahan bakar nabati (biodiesel).

Tak hanya itu. Berkat kejelian Innocencio Kresna Pratama, siswa kelas VI SD Tunas Mekar Indonesia (TMI) Lampung, salah satu produk andalan Provinsi Lampung ini juga dapat dijadikan sebagai pengganti baterai kalkulator dan jam digital.

Berkat hasil temuannya tersebut, Inno (demikian ia biasa disapa) yang mewakili Kota Bandar Lampung meraih juara pertama untuk kategori membuat teknologi sederhana dalam Kompetensi dan Kreativitas Siswa SD dan Madrasah Ibtidaiah (MI) se-Provinsi Lampung pada tanggal 6--7 November lalu. Lewat karyanya bertajuk Baterai Singkong, Upaya Menemukan Energi Alternatif, Inno akan mewakili Provinsi Lampung di ajang yang sama tingkat nasional pada tanggal 27 November mendatang.

Inno menuturkan untuk membuat baterai singkong sangat mudah dan murah. Hanya bermodalkan satu batang singkong kecil. Singkong lalu dipotong menjadi empat.

Setelah itu pelat tembaga dan seng ditancapkan pada potongan singkong tersebut. Kemudian disambungkan dengan kabel kecil ke kalkulator dan jam digital. Lalu keduanya menyala serta berfungsi secara akurat. "Singkong dapat menghasilkan listrik karena mengandung cairan elektrolit yang dapat menghasilkan listrik. Untuk itu teknologi sederhana ini kami beri nama Baterai Singkong karena cara membuatnya sangat sederhana," ujar putra pasangan drg. Edy Suwanto dan drg. Lucia Dwi Handayani ini, Jumat (9-11).

Anak laki-laki kelahiran Blitar, tanggal 8 Maret 1996 mengaku suka melakukan penelitian karena rajin membaca. Apalagi sejak di bangku kelas satu, ia sudah diajari melakukan penelitian ringan dari sekolah. Mulai cara menanam, mengamati pertumbuhan tanaman, dan sebagainya. "Berangkat dari situlah aku senang melakukan penelitian kecil-kecilan," ujar Inno.

Ia makin tertarik saat membaca di internet dan berbagai buku bahwa jeruk dan apel dapat menghasilkan listrik. "Mulai dari situlah aku tertarik melanjutkan penemuan tersebut. Aku menduga buah lain, bahkan umbi-umbian juga dapat menghasilkan listrik," ujar dia.

Kemudian, Inno mengadakan serangkaian percobaan di sekolah. Awalnya ia menguji buah mangga. Terbukti buah mangga dapat menghasilkan listrik. Kemudian ia beralih ke umbi-umbian. Ia menguji singkong, bengkuang, ubi, dan kentang.

Dari percobaan tersebut ia menemukan bahwa kentang dan singkong mengandung energi listrik yang cukup besar. Akan tetapi, Inno yang pernah mewakili sekolah untuk Olimpiade Sains tingkat provinsi tahun 2005 ini hanya menetapkan singkong sebagai penemuannya karena mudah diperoleh dan dibudidayakan. Selain itu harganya murah, bahan baku yang ramah lingkungan, bisa dikonsumsi, serta jadi produk andalan Lampung.

"Hasilnya baterai singkong dapat bertahan berhari-hari tanpa henti layaknya baterai sungguhan. Dan bisa dipakai berkali-kali dengan hanya menancapkan pelat tembaga di bagian sisi lain yang belum digunakan," ujar peneliti cilik yang pernah meraih juara I lomba teknologi sederhana tingkat Kota Bandar Lampung 2007 ini.

Inno juga berencana melakukan penelitian lanjutan untuk membuat singkong menjadi batu baterai kering. Ia mengaku keberhasill ini berkat dukungan berbagai pihak. Khususnya pihak sekolah yang terus membimbing Inno dan dukungan orang tua hingga menjadi jawara.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Kepala SD TMI PC Prasetya, Pak Budi, guru sains, Miss Mamik dan Mr. Ipal, guru kelas VI yang telah membimbing dan mendorong hingga meraih prestasi ini. Ia juga menargetkan dalam lomba tingkat nasional nanti dapat menjadi jawara sehingga dapat mempersembahkan yang terbaik bagi SD TMI dan Provinsi Lampung. "Doakan ya," ujar Inno. WIWIK HASTUTI/S-1


Sumber: Lampung Post

Friday, 2 October 2009

Penemuan Senyawa Baru Oleh Putra indonesia

Seorang peneliti yang juga dosen senior Universitas Palangkaraya (Unpar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Prof Dr Ciptadi berhasil menemukan senyawa kimia baru yaitu senyawa 1,3-oxaphospholes.

Kepala Lembaga Penelitian Unpar tersebut membenarkan ia berhasil menemukan senyawa baru 1,3-oxaphospholes itu, saat diwawancarai di di Palangkaraya, Jumat (11/9).

Dijelaskannya, senyawa 1,3-oxaphospholes yang ditemukannya itu, terindikasi sebagai senyawa yang bermanfaat untuk antibiotik dan pestisida. Senyawa itu dibuat dari unsur phosphorus.

"Saat berada studi di Perancis, saya menemukan 40 senyawa oxaphospholes dan derivat-derivatnya (turunannya)," katanya.

Dari 40 senyawa baru tersebut 30 di antaranya sudah dikirim ke Bayern Jerman, sebuah lembaga farmasi yang ada di jerman. Sementara 10 senyawa baru lainnya masih dikembangkan mahasiswa program doktor (S3) di ENSCM Montapellier II Perancis.
Penemuan senyawa baru olehnya itu diharapkan dapat dipatenkan bersama-sama dengan Prof Dr Cristau, seorang guru besar asal Perancis selaku dosen pembimbing saat melakukan penelitian di laboraorium universitas tersebut.

Berdasarkan keterangan guru besar bidang biokimia/ kimia organik Unpar tersebut, penemuan tersebut cukup membanggakan bangsa Indonesia, karena jarang terdapat mahasiswa Indonesia menemukan senyawa baru di perguruan tinggi itu.

Oleh karena itu, ketika diumumkan penemuan tersebut, Duta Besar Indonesia untuk Perancis ikut menghadiri dan mengucapkan selamat atas penemuan tersebut.

Pengembangan penelitian ini masih terus dilakukan bekerjasama dengan laboratorium kimia organik ENSCM Universite Montpellier II Perancis.

Penemuan senyawa-senyawa baru tersebut sebagian sudah diseminarkan di berbagai negara di Eropa dan Asia seperti perancis, Inggris, Jerman, dan jepang.

"Sebagian juga sudah dipublikasikan pada jurnal internasional, seperti Acta Crystallographica, European Jounal of Organik Chemistry, Journal of Organometallic Chemistry, Phosphorus Sulfur and Silicon," katanya.

Ia menemukan senyawa itu saat ia mengambil program doktor (S3) kimia biomolekul di ENSCM Universite Montapellier II, Perancis.



Bagikan

UI Gelar Lima Produk Penemuan Unggulan

JAKARTA--Universitas Indonesia (UI) mengekspose produk-produk penemuan para mahasiswa dan dosen UI Sistem Informasi Kepakaran di Plenary Hall, Jakarta Convention Center, Ahad (9/8). Ekspose produk penemuan UI ini merupakan bagian rangkaian Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009.

Sebanyak lima karya unggulan ditampilakan, seperti alat pendeteksi penyakit melalui citra darah di komputer, pengembangan sistem sel surya, alat pendeteksi getaran tsunami, dan metode sistem informasi geografis.

''Berbagai produk ini mendukung peningkatan daya saing bangsa ini,'' ujar Deputi Direktur Kantor Komunikasi UI Devie Rahmawati, Ahad (9/8).


Kali ini, kata Devie, UI memprioritaskan produk penelitian karya anak negeri dengan menampilkan citra universitas yang mengutamakan proteksi terhadap manusia, aset, properti, data terhadap lingkungan. Terutama dengan mengusung semboyan 'health, safety, and environmental is everybody concern' yang tercermin dalam perilaku dan budaya seluruh sivitas akademika.

Devie memaparkan, salah satu produk pendeteksi penyakit melalui citra darah diciptakan dengan biaya jauh lebih murah, cepat, praktis serta aman bagi kesehatan. Dengan menggunakan codebook berukuran 32, 64, dan 128 dengan jumlah repetisi 5 dan 10 kali, diperoleh tingkat akurasi pengenalan penyakit melalui darah antara 82,76 persen, sampai 98 persen.

Saat ini, yang sudah mampu dikenali ialah penyakit leukemia. Peneliti sedang terus mengembangkan software agar mampu mendeteksi penyakit-penyakit lainnya. Dalam penelitian ini dilakukan perancangan prose pengenalan penyakit leukemia dari citra darah dengan menggunakan metode hidden markov model (HMM). Prosesnya melibatkan dua tahap proses utama yaitu proses pembentukan database dan proses pengenalan.

Sementara itu, dua peneliti dari teknik elektro UI, Feri Yusiver dan Thomas Damas Setyo, terus mengembangkan sistem sel surya terdiri dari 15 panel sel surya 50 watt. Rangkaian produk ini dapat menghasilkan tegangan kurang lebih 300 volt DC dengan arus maksimal yang dapat dicapai adalah 3 ampere serta bertenaga 280 volt. Alat praktis yang telah diterapkan berupa alat kontrol dan monitor pengawas.

Peneliti UI juga telah merancang alat pendeteksi getaran tsunami dengan tingkat akurasi yang tinggi dari bahan-bahan yang mudah didapatkan oleh masyarakat di sekitar rumah. Dengan teknik yang dirancang tidak diperlukan lagi perangkat sensor yang diletakkan di dasar laut dekat patahan lempengan antara dua benua. Keunggulannya, mampu memberikan peringatan kepada penduduk lebih cepat, sehingga rata-rata penduduk memiliki waktu empat jam untuk menyingkir dari lokasi yang dideteksi akan terjadi tsunami.

Thursday, 1 October 2009

Bali Pulau Terbaik Dunia 2009


Majalah Pariwisata Internasional Travel dan Leisure menobatkan Bali sebagai pulau terbaik di dunia tahun 2009, mengalahkan pulau-pulau terkenal lain termasuk Kepulauan Galapagos.

Menurut Ketua Badan Pariwisata Bali (BTB) Ngurah Wijaya di Renon RAbu mengatakan, penghargaan itu merupakan titik balik bagi pariwisata Bali ditengah pemberlakuan travel warning atau larangan berkunjung oleh Amerika dan Australia pasca-serangan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta 17 Juli lalu.

“Travel dan Leisure menobatkan Bali sebagai pulau terbaik dunia setelah menyisihkan pulau-pulau lainnya di dunia termasuk Kepulauan Galapagos,” paparnya.

Dia menambahkan, tahun lalu Bali kalah dengan Galapagos, namun pada tahun ini Bali mampu melampaui pulau tersebut dengan mengumpulkan poin mencapai 87.41, sementara Galapagos hanya mengumpulkan 86,80 poin.

Lebih jauh dia mengungkapkan, larangan berkunjung oleh luar negeri sudah ada sejak dulu, namun baginya hal itu tidak menghambat Bali meraih penghargaan internasional.
“Ini patut kita syukuri dan apresiasi, karena sekaligus mempromosikan Bali sebagai kawasan wisata yang masih layak di mata dunia,” ujarnya.

Dia juga menyatakan, hingga kini belum ada pembatalan kujungan wisatawan mancanegara ke Bali terkait adanya ledakan bom di Jakarta. “Saya belum menerima laporan tentang pembatalan kunjungan itu, ” tandasnya optimis.

Demikian halnya dengan wisatawan yang tengah berlibur di Pulau Dewata, dia mengaku tidak ada eksodus besar-besaran seperti yang disampaikan beberapa kalangan.

“Sampai sekarang wisatawan asing masih meilih menghabiskan liburannya di Bali, tidak ada eksodus akibat ledakan bom Jakarta,” kilahnya.

Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali dikatakan masih stabil, dan mencapai rata-rata 6000 orang perhari. “Saya meminta aparat meningkatkan sistim pengamanan supaya kondisi seperti saat ini bisa bertahan,” imbuhnya.

Sumber: ANTARA

Saturday, 19 September 2009

Sembilan Orang Indonesia menjadi Nominator Asia’s Best Young Entrepreneur 2009


Seorang sosiolog terkenal, David McClelland pernah berkata, bahwa suatu negara dapat menjadi makmur apabila jumlah entrepreneurnya paling sedikit 2% dari total penduduk keseluruhan. Pada tahun 2001 saja, Singapura telah memiliki entrepreneur sebanyak 2.1% dan telah meningkat menjadi 7.2% pada tahun ini. Sedangkan, total entrepreneur di Indonesia baru 0.18% dari jumlah penduduk atau sekitar 400.000-an jiwa. Masih merupakan sebuah jalan yang panjang untuk mencapai target ideal yang dimaksud.

Berbicara mengenai entrepreneur, kita berbicara mengenai mereka-mereka yang memiliki daya kreasi dan inovasi tinggi untuk menciptakan kesempatan berharga dari sesuatu hal yang sering dipandang tidak bernilai. Berani mengambil resiko dari setiap tindakan, tanggap terhadap perubahan, tidak mudah menyerah, tidak takut rugi dan belajar dari kesalahan namun takut bila hidup hanya menjadi beban dan diam saja tanpa berusaha menyongsong perubahan. Itulah mengapa David McClelland dapat berkata bahwa entrepreneur adalah sosok yang mampu membawa kemakmuran bagi negaranya.

Tahun ini, Indonesia sebenarnya dapat cukup berbangga. Semakin banyak entrepreneur muda Indonesia yang masuk dalam nominasi Business Week Asia’s Best Young Entrepreneurs 2009. Dari 25 orang yang terpilih di Asia, tahun ini Indonesia berhasil menempatkan 9 entrepreneur muda terbaik yang berusia di bawah 35 tahun. Sungguh sebuah hal yang patut diapresiasi dan semoga merupakan sebuah indikasi positif perkembangan entrepreneur di Indonesia.

Para entrepreneur muda tersebut antara lain adalah sebagai berikut.

1. Andina Nabila Irvani (19 tahun)

Mahasiswa Universitas Bina Nusantara yang menekuni usaha sepatu, baju, dan tas lukis dengan merek usaha Spotlight bersama saudara perempuannya Nerissa Arviana.

2. Antonius Dian Adhy Feryanto (30 tahun)

Pada tahun 2006, Feryanto dan beberapa rekannya membangun PT Pavettia Atsiri Indonesia (PAI), sebuah usaha yang mampu mengubah bahan-bahan mentah dari alam menjadi produk komersial, yakni minyak.

3. Aziz Setyawijaya (19 tahun)

Aziz mendirikan Nomaden Experintal Artworks, sebuah usaha yang berkaitan dengan fotografi, pada tahun 2008. Dalam beberapa bulan, Nomaden berhasil meraup pemasukan sebanyak $7000.

4. Goris Mustaqim (26 tahun)

Goris membantu anak-anak muda untuk mewujudkan ide-ide bisnis mereka menjadi rencana kerja yang nyata. Pada tahun 2006, Goris mendirikan Yayasan Asgar Muda yang menyemangati para pemuda untuk dapat terlibat aktif dalam isu pendidikan dan budaya dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Ia juga mendirikan PT. Resultan Nusantara.

5. Iim Fachima Jachja (31 tahun)

Virus Communications adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang online marketing consulting. Virus didirikan pada tahun 2006 oleh Iim Fahima dan suaminya, Adhitia Sofyan. Dalam waktu 3 tahun, perusahaan tersebut berhasil melakukan lompatan yang besar dalam bisnis dan telah meng-handle lebih dari 10 klien ternama, seperti Hewlett Packard, Toyota, Auto 2000, Telkom, XL, Smart Telco, Lippo Group, Tupperware, dan Sosro.

6. Malariantika Yulianggi (19 tahun)

Malariantika mendirikan sebuah usaha kuliner bernama Shoyu Pia Cake, makanan yang berbasis bahan dasar singkong.

7. Oscar Lawalata (32 tahun)

Oscar Lawalata adalah seorang fashion designer. Bulan Februari yang lalu, ia berhasil memenangkan British Council’s International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Fashion Award 2009 di London’s Fashion Week.

8. Roihatul Jannah (30 tahun)

Roihatul mendirikan sebuah usaha bernama Helmiat Bonceng Bocah (HBB). Produk HBB ditujukan sebagai alat pengaman ketika orang tua memboncengkan anak-anaknya dengan menggunakan motor.

9. Wahyu Aditya (29 tahun)

Wahyu mendirikan HelloMotion School pada umur 24 tahun. HelloMotion School merupakan sebuah sekolah di bidang film dan animasi. Wahyu pernah menjadi finalis nasional untuk ajang IYCEY Design Award 2006, pemenang IYCEY Design and Screen Award 2007, juga menjadi orang Indonesia pertama dan termuda yang dianugerahi gelar British Council’s International Young Screen Entrepreneur of the Year.