Showing posts with label Dunia Leasing. Show all posts
Showing posts with label Dunia Leasing. Show all posts

Monday, 16 November 2009

Lesu di Semester I, WOM Genjot Kredit


JAKARTA. Bayang-bayang krisis ekonomi memang masih menghantui bisnis pembiayaan kendaraan bermotor. Tapi, setelah sempat lesu pada semester I, kini perusahaan pembiayaan mulai bangkit menggenjot penjualan.

Salah satu perusahaan yang mencoba menggenjot omzet itu adalah PT Wahana Ottomitra Multiartha (WOM) Finance Tbk. Total penyaluran kredit WOM Finance pada semester I 2009 meleset 15% dari target, yaitu 160.000 unit motor. "Mulai Agustus sampai saat ini, kami telah menyalurkan pembiayaan untuk 255.000 unit motor," ujar Presiden Direktur WOM Finance, Suwandi Wiratno, Kamis (3/9).

Meski jumlah pembiayaan naik memasuki semester II, WOM Finance masih punya pekerjaan rumah. Mereka mematok target penjualan sepanjang tahun ini sebesar 400.000 unit. Target itu setara dengan nilai pembiayaan Rp 5 triliun.

WOM mendapat angin segar menjelang musim lebaran. "Ada lonjakan permintaan kredit kendaraan menjelang lebaran sebanyak 5.000 unit," ujar Suwandi. Rezeki nomplok saat lebaran ini sekaligus menggenjot nilai pembiayaan kredit WOM sehingga mencapai Rp 2,7 triliun pada akhir Agustus 2009. Angka penjualan ini jelas sedikit melegakan lantaran sepanjang semester I 2009 lalu mereka baru menyalurkan kredit senilai Rp 1,9 triliun.

Rata rata omzet pembiayaan WOM per bulan di semester pertama lalu sebanyak 26.000 unit untuk motor dengan nilai rata-rata Rp 12 juta per unit. Khusus bulan Agustus lalu penjualan mencapai 40.000 unit. Melebihi kondisi normal yang mencapai 35.000 unit per bulan.

Meski sudah memasuki September, Suwandi yakin WOM Finance masih bisa mengejar target pembiayaan kredit yang mereka patok untuk tahun ini. WOM Finance akan melakukan ekspansi besar-besaran di sisa tahun ini agar target tercapai. "Salah satu caranya, kami akan membuka cabang baru sejumlah 19 cabang sampai akhir tahun," jelas Suwandi.

Asal tahu saja, jumlah bakal kantor baru itu terbilang gede menghitung jumlah cabang WOM Finance yang sekarang cuma 141. Untuk keperluan penambahan jumlah kantor cabang tadi, Suwandi bilang WOM telah menyiapkan duit untuk pembangunan kantor beserta isinya masing-masing sebesar Rp 150 juta.

Meski kinerja WOM Finance mulai sedikit bersinar, sejatinya hasil tahun ini jauh lebih buruk dari perkiraan semula. Lihat saja, WOM Finance telah menurunkan target penjualan tahun 2009 dari 487.000 unit motor menjadi 400.000 unit saja. "Kami tetap optimis tis bisa capai target pembiayaan dan penambahan kantor cabang," paparnya.

Suwandi bilang WOM Finance akan berupaya mempertahankan pangsa pasar pembiayaan motor yang saat ini berkisar pada angka 7%.


Dessy Rosalina KONTAN

Sunday, 15 November 2009

KREDIT MACET INDUSTRI PEMBIAYAAN Per September, NPL Multifinance Mengkerut


JAKARTA. Upaya perusahaan pembiayaan mengatasi persoalan non-performing loan (NPL), atawa piutang bermasalah, membuahkan hasil. Dibanding tahun lalu, per akhir September ini rata-rata NPL multifinance menurun.

Direktur Marketing PT Federal International Finance (FIF) Margono menuturkan, NPL FIF per akhir September sebesar 2,6%, turun dibandingkan posisi September 2008, yaitu 3,1%. Begitu pula dengan
PT Wahana Ottomitra Multiartha Finance Tbk. (WOM). Anak usaha PT Bank Internasional Indonesia Tbk itu menekan rasio NPL dari 6,7% menjadi 4%.

Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mencatat, rata-rata NPL anggota mereka per akhir September sebesar 1,5%. "Angka 1,5% ini sudah cukup bagus, tapi kami berharap akhir tahun angka nya bisa lebih kecil lagi," kata Dennis Firmansyah, Sekjen APPI.

Margono menyebut, penurunan rasio NPL sebagai pertanda membaiknya kinerja multifinance. "Sejak kuartal kedua kami berusaha keluar dari kiris global," ujarnya.

Di FIF, usaha menurunkan NPL dilakukan dengan dua cara: memperketat proses seleksi calon customer dan melakukan penyelesaian terhadap customer bermasalah.

Dennis menambahkan, penurunan rasio NPL per kuartal ketiga ini juga disebabkan meningkatnya pembiayaan. "Nilainya mulai naik sejak Mei lalu," ujarnya. APPI mencatat, pembiayaan untuk sektor tambang dan kebun mulai tumbuh, kendati tidak sepesat paruh pertama 2008 lalu. Faktor lainnya adalah penurunan bunga bank. "Perusahaan pembiayaan mendapatkan dana murah sehingga nasabah kita juga tidak terbebani," ujarnya.

Jika perusahaan multifinance lain menggenjot pembiayaan untuk menekan NPL, PT Indomobil Finance justru mengerem ekspansi. Menurut Gunawan, Direktur Indomobil Finance, perusahaanya tahun ini fokus memperbaiki kualitas aset, penagihan, dan sumber daya manusia. "Tahun ini, kami memilih untuk hati-hati dan tidak mengejar penyaluran pembiayaan," ujarnya.

Indomobil Finance mengutamakan memperbaiki kualitas aset supaya rasio NPL di bawah 2%.


Herry Prasetyo KONTAN

Meski Rupiah Perkasa, Pembiayaan Elektronik Masih Melempem


JAKARTA. Nilai tukar dolar terhadap rupiah yang melemah sepanjang Oktober, tampaknya, tidak mendorong minat konsumen memborong produk elektronik. Ini bisa disimpulkan dari pertumbuhan pembiayaan produk elektronik yang masih mungil.

Kenaikan pembiayaan elektronik, komputer, dan furnitur di Adira Quantum pada bulan Oktober lalu hanya berkisar antara 5%-10%. Begitu pula kenaikan pembiayaan elektronik di FIF Spektra.

"Pembiayaan selama bulan Oktober mencapai Rp 86 miliar," kata Rita Sukmawati, Kepala Marketing FIF Spektra. Ini artinya, pembiayaan elektronik di FIF Spektra hanya tumbuh 5% dari bulan sebelumnya, yang sebesar Rp 82 miliar.

Direktur Penjualan dan Distribusi Adira Quantum Ruslim Muldjadi menuturkan, penyebab kenaikan pembiayaan sepanjang bulan Oktober lalu merupakan perpaduan antaran jumlah hari kerja yang lebih banyak dengan penguatan kurs rupiah. "Namun, pengaruh penguatan rupiah terhadap bisnis pembiayaan produk elektronik ini relatif kecil," ujarnya.

Penjelasan tak jauh berbeda disampaikan Rita. "Jumlah hari kerja yang lebih banyak ini yang menyebabkan pembiayaan elektronik meningkat dibanding September," katanya. Maklum, pada bulan September lalu, hari-hari kerja terpotong oleh libur.

Tren pelemahan dolar tidak banyak mempengaruhi penjualan karena harga produk elektronik tidak turun.

Meski demikian, pembiayaan untuk pembelian komputer di Adira Quantum terbilang lumayan. "Pembiayaan komputer kami naik berkisar 20%-30% di bulan Oktober," ujar Ruslim. Nilai transaksi untuk pembiayaan komputer mencapai Rp 50 miliar.

Menurut Rusli, pembiayaan komputer terbilang unik. Pasalnya, seringkali pedagang menahan untuk tidak melepas barang ketika kurs dolar melemah. Padahal, jika nilai tukar dolar tinggi, konsumen cenderung untuk tidak membeli kebutuhan komputer. "Kestabilan kurs sangat penting dalam pasar komputer," ujarnya.

Jika kredit komputer meningkat, berbeda halnya dengan pembiayaan untuk produk furnitur. Kredit untuk pembelian barang-barang perkakas rumah tangga ini justru merosot hingga 20%.

Tak seperti Adira Quantum yang mencatat pertumbuhan pembiayaan komputer, FIF Spektra belum mencatat pertumbuhan tinggi untuk pembiayaan komputer. Rita bilang, selama ini, perusahaannya memang belum terlalu agresif pada jenis pembiayaan itu.

"Pembiayaan komputer hanya mengambil porsi beberapa persen saja. Selain itu, nasabah yang kami bidik untuk pembiayaan ini sangat segmented, yakni khusus karyawan," ujarnya. Adapun sebagian besar kredit FIF Spektra tersalur untuk berbagai produk home appliance.

OTOMOTIF: Penjualan TVS Naik 50 Persen

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Peminat sepeda motor TVS di Lampung terus mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari peningkatan penjualan TVS sepanjang 2009 yang mengalami peningkatan 50% setiap bulannya.

Untuk menggenjot penjualan, PT TVS Motor Company melalui diler utama PT Simpur Motor Lestari menggelar program uang muka ringan mulai dari Rp1,2 juta. Program ini berlangsung hingga akhir Desember 2009 mendatang.

Manager Marketing PT Simpur Motor, Lutfi Amrullah, Jumat (13-11), mengatakan market share TVS di Lampung terus mengalami peningkatan. "Kami optimistis pada 2010 market share TVS di Lampung meningkat. Apalagi ditunjang dengan kondisi ekonomi Lampung yang terus mengalami kemajuan khususnya di bidang perkebunan dan sektor agrobisnis," kata Lutfi.

Lutfi menjelaskan untuk pembelian TVS The Rock dan Neo konsumen cukup membayar uang muka sebesar Rp1,2 juta dan untuk menikmati kehebatan TVS Apache RTR 160 konsumen hanya menyediakan uang muka Rp3 juta.

Mengenai pembiayaan, TVS telah bekerja sama dengan WOM finance, Adira, Indomobil Finance, Kredit Plus, dan BNI Finance.

Sedangkan untuk membina keakraban dan sebagai sarana silaturahmi serta berbagi informasi, TVS membentuk TVS Motor Community. Komunitas pemilik sepeda motor TVS di Lampung ini resmi dibentuk akhir Oktober lalu di Metro.

Anggota TVS Motor Comunnity saat ini berjumlah 60 orang. Para anggota memiliki keuntungan mulai dari diskon spare part, servis, dan aneka informasi produk dengan beragam keunggulannya.

Lutfi menambahkan TVS didukung oleh layanan purnajual yang tinggi, serta diler mulai dari sales, servis, dan spare part. Di Lampung, TVS motor memiliki enam diler, yakni PT Simpur Motor Lestari (diler utama Bandar Lampung), TVS Metro, TVS Pekalongan, TVS Kotabumi, TVS Panaragan, dan TVS Pringsewu.

Melengkapi jaringan dan purnajual TVS, PT TVS Motor Company wilayah Lampung membuka gerai-gerai penjualan dan bengkel kemitraan. Untuk tahap awal, sekitar 50 bengkel kemitraan di Lampung akan mendukung servis TVS. Bengkel ini akan mendapatkan binaan langsung dari TVS Motor Company Indonesia.n CR-1/E-1

Laba multifinance tumbuh signifikan

JAKARTA: Kinerja perusahaan pembiayaan yang fokus pada pembiayaan konsumen kian mengesankan setelah mencetak kenaikan signifikan atas laba bersih hingga September tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh penyaluran kredit kendaraan yang meningkat seiring dengan perekonomian Tanah Air yang tetap positif bertahan dari imbas krisis ekonomi global pada akhir tahun lalu.

Adalah PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance), PT Federal International Finance (FIF), PT Summit Oto Finance (SOF), dan PT Oto Multiartha (Oto). Adapun, PT Bhakti Finance yang mencatatkan penurunan laba sebagaimana publikasi dalam laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia.

Summit Oto yang merupakan multifinance dengan kenaikan laba bersih fantastis pada kuartal I/2009 melanjutkan prestasinya dengan kembali mencetak kenaikan keuntungan menjadi Rp343,5 miliar dari periode yang sama tahun lalu Rp42,8 miliar.

Pada kuartal I/2009 , anak usaha Sumitomo Corporation Group ini meraup profit Rp129,5 miliar dari Rp16 miliar.

Perusahaan pembiayaan mobil yang satu grup dengan SOF, Oto juga mencatatkan kenaikan laba bersih dari Rp215,1 miliar menjadi Rp372,5 miliar. Kenaikan tersebut didorong peningkatan pendapatan pembiayaan konsumen yang tembus Rp1,1 triliun dari sebelumnya Rp843,9 miliar.

Sekretaris Perusahaan SOF Saiful Ichlas mengungkapkan pencapaian positif perusahaan baik dalam menyalurkan baik sepeda motor maupun mobil didorong oleh komitmen induk usaha, kondisi makroekonomi Tanah Air, dan membaiknya suku bunga.

"Kami tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi konsumen. Kenaikan laba bersih ini adalah wujud kinerja kami yang efisien dan efektif," katanya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

FIF juga membukukan laba Rp570,9 miliar, naik hingga 20% dari Rp471,6 miliar pada September tahun lalu seiring dengan pendapatan pembiayaan konsumen yang juga tinggi Rp2,7 triliun, meski lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp2,8 triliun.

Tak hanya FIF, laba Adira Finance juga melejit 29% dari Rp694 miliar menjadi Rp896 miliar. Meski jumlah beban naik 9% menjadi Rp1,6 triliun, pendapatan pembiayaan konsumen tetap naik menjadi Rp2 triiun dari Rp1,7 triliun.

Di sisi lain, Bhakti Finance yang mulai fokus pada pembiayaan rumah ini meraih Rp4,3 miliar, lebih rendah dari Rp13,7 miliar yang dicapai sebelumnya. Hal itu lantaran pengaruh jumlah beban dari obligasi dan pinjaman serta rendahnya pendapatan pembiayaan konsumen dari Rp79,6 miliar menjadi Rp50,4 miliar.

Perbesar pangsa pasar

Dalam kesempatan terpisah, Presiden Direktur Adira Finance Stanley Setia Atmadja mengungkapkan kenaikan laba bersih tersebut menyusul melejitnya pembiayaan baru (booking) kendaraan bermotor hingga Rp10 triliun per September tahun ini dengan kontribusi terbesar dari kredit sepeda motor baru yang mencapai Rp7,5 triliun, sementara pembiayaan mobil sebesar Rp2,5 triliun.

Pencapaian tersebut, katanya, didukung oleh kondisi makroekonomi Indonesia yang kian terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih positif, tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah yang terjaga dengan baik serta tingkat suku bunga acuan BI Rate yang rendah di level 6,5%.

"Pencapaian ini juga tak lepas dari keberhasilan pemerintah yang menciptakan kondisi makroekonomi yang stabil,' katanya.

Erida Gunawan, Direktur Operasi dan Pembiayaan Mobil Adira Finance, menambahkan perseroan akan meningkatkan pangsa pasar untuk pembiayaan mobil seiring dengan kenaikan pangsa pasar dari 2,7% pada September tahun lalu menjadi 3,2% tahun ini.

Dia mengungkapkan pangsa pasar Adira Finance untuk sepeda motor baru justru menurun 13% dari 13,8% pada September tahun lalu dipengaruhi penjualan industri motor yang menurun sebesar 13,8%

Selain itu, Erida menambahkan, perseroan tetap mengandalkan strategi pengembangan sesuai dengan kebutuhan bisnis a.l melalui kerja sama dengan dealer dan peningkatan citra agar lebih dikenal konsumen, khususnya untuk pembiayaan mobil. (Fahmi Achmad) (tahir.saleh@bisnis.co.id)

Oleh M. Tahir Saleh
Bisnis Indonesia

Adira incar booking Rp13 triliun


JAKARTA: PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (Adira Finance) memproyeksikan penyaluran kredit baru (new booking) pada tahun depan meningkat hingga 15% dari realisasi tahun ini yang diyakini lebih dari Rp13 triliun.

Pada kuartal III/2009, perusahaan pembiayaan yang disokong oleh induk perusahaan Bank Danamon ini sudah mencetak pembiayaan baru kendaraan bermotor Rp10 triliun dengan kontribusi terbesar dari kredit sepeda motor baru.

Presiden Direktur Adira Finance Stanley Setia Atmadja mengatakan proyeksi pembiayaan tahun depan sebenarnya masih dalam tahap pengkajian sehingga untuk sementara perseoran memproyeksikan kenaikan booking antara 10% dan 15%.

Stanley mengatakan hingga akhir tahun ini, booking akan terealisasi di atas Rp13 triliun atau mampu melewati target yang sebelumnya dipatok Rp12 triliun.

"Kondisi tahun depan diperkirakan semakin positif sehingga kami memperkirakan pembiayaan meningkat antara 10%-15% dari posisi akhir tahun ini apalagi pada kuartal ketiga ini pembiayaan sudah menembus Rp10 triliun," katanya kepada pers usai Infobank Outlook 2010 di Jakarta kemarin.

Menurut dia, pasar pembiayaan pada semester II/2009 sudah sangat positif. Hal itu mengingat faktor pendukung seperti pinjaman bank atau likuiditas sudah lebih baik dari sebelumnya dan BI Rate yang berada di level rendah. Jika perekonomian semakin baik, lanjutnya, berimbas terhadap kualitas portofolio konsumen yang juga baik. Oleh sebab itu, pada tahun depan pembiayaan semakin marak.

Akan tetapi, menurut Stanley ada beberapa tantangan dari industri otomotif yang terkait erat dengan industri multifinance di antaranya kesiapan industri otomotif dalam menyediakan produk-produk bagi kebutuhan pasar.

"Tantangan ke depan itu lebih pada kesiapan produsen otomotif. Terkadang ada mismatch terhadap kebutuhan dan persediaan [inventory]. Mereka [otomotif] juga tidak mungkin terlalu optimistis dengan menyiapkan inventori kendaraan bermotor karena nantinya bisa banjir," katanya.

Peluang cabang

Stanley menambahkan pada tahun depan pihaknya juga berpeluang membuka kantor cabang baru untuk mengakomodasi sebagian wilayah di luar Pulau Jawa.

Terkait dengan pendanaan, pihaknya belum menyediakan nominal angka yang sebenarnya dibutuhkan, tetapi sebagai patokan untuk membuka satu cabang diperlukan antara Rp700 juta dan Rp1 miliar.

Erida Gunawan, Direktur Operasi dan Pembiayaan Mobil Adira Finance, mengatakan sejak Januari hingga September tahun ini di tengah penurunan pangsa pasar Adira atas pembiayaan sepeda motor baru, pangsa pembiayan mobil justru meningkat.

Pangsa Adira untuk motor turun dari 13,8% menjadi 13%, sementara pangsa pasar untuk mobil baru meningkat dari 2,7% pada September tahun lalu menjadi 3,2% pada periode yang sama tahun ini.

Oleh M. Tahir Saleh
Bisnis Indonesia

Belanja Modal WOM Finance 2009 Rp20 M


INILAH.COM, Jakarta - Belanja modal PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) 2009 dianggarkan Rp20 miliar untuk pergantian sistem. Tahun depan juga belanja modal disiapkan Rp20 miliar.

Hal itu disampaikan Direktur Keuangan WOMF Albertus Alex Hermanto, Kamis (5/11). Belanja modal Rp 20 miliar pada 2009 telah digunakan untuk pergantian sistem.

anto.

Hingga Oktober WOMF memberikan pembiayaan sekitar 330 ribu motor. Ditargetkan pada akhir tahun mencapai 400 ribu . "Dengan biaya Rp6 triliun bisa membiayai sekitar 500 ribu hingga 600 ribu motor pada tahun depan," tambahnya.

Rencananya WOMF akan melakukan ekspansi dengan membuka cabang di Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan. Sekitar 30 hingga 40 cabang yang akan dibuka. "Pasar terbesar WOMF ada di pulau Jawa oleh karena itu ingin melakukan ekpansi di luar Jawa termasuk Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi," jelasnya.

Ia menambahkan,daerah Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi merupakan daerah penghasil komoditas termasuk tambang sehingga memiliki pasar. WOMF akan tetap fokus pada pembiayaan motor.

Wednesday, 11 November 2009

WOM Incar Biayai 600 Ribu Motor Rp6 T


Kamis, 5 November 2009 - 14:33 wib
text TEXT SIZE :
Widi Agustian - Okezone
Foto : Koran SI.

JAKARTA - Perusahaan pembiayaan kredit sepeda motor PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) menargetkan bisa membiayai sekitar 500-600 ribu motor pada 2010. Total pembiayaannya sekira Rp6 triliun.

"Hal ini karena pertumbuhan ekonomi pada tahun depan akan bagus," kata Direktur Keuangan WOMF Albertus Alex Hermanto, di Jakarta, Kamis (5/11/2009).

Sebagai perbandingan, perseroan memberikan pembiayaan motor senilai Rp4,5-5 triliun pada 2009 ini. Selanjutnya, Albertus mengungkapkan jika pembiayaan sebesar Rp6 triliun ini berasal dari pihak perbankan. Dengan sekitar 80 persen diikuti oleh BII, Bank Mandiri dan Bank Mega.

Per Oktober 2009, perseroan memberikan pembiayaan sekira 330 ribu unit motor. WOM optimis, jika pada akhir tahun pembiayaan akan mencapai 400 ribu unit.

Dalam RUPSLB yang dilakukan perseroan pada hari ini, perseroan menyetujui untuk dilakukan pergantian direksi. Di mana Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) Dewi Asabander digantikan oleh Direktur baru, yaitu Martha Bambang Priambodo.

Selain itu, dijelaskan pula rencananya perseroan akan melakukan ekspansi dengan membuka cabang di Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan. Sekira 30 hingga 40 cabang yang akan dibuka. Sementara, pasar terbesar perseroan ada di Pulau Jawa.

Pembiayaan untuk pembukaan cabang ini akan didapatkan dari dana internal. Sementara itu, perseroan memiliki obligasi sekitar Rp365 miliar yang akan jatu tempo pada Mei-Juni tahun 2010. (rhs)

WOM Finance Lunasi Obligasi Rp170 M


Rabu, 10 Juni 2009 - 08:59 wib
Chandra Setya Santoso - Okezone

JAKARTA - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) telah melakukan pelunasan atas Obligasi II-2005 dan Obligasi III-2006, dengan total nilai Rp170 miliar. Pelaksanaan pembayarannya telah dilakukan melalui agen pembayaran PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada Jumat (5/6/2009).

Hal tersebut diungkapkan Corporate Secretary WOMF Fenfira Tedja, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (10/6/2009).

Pokok Obligasi II WOM Finance Tahun 2005 dengan tingkat bunga Seri C senilai Rp170 miliar, yang jatuh tempo pada 7 Juni 2009, dan pokok obligasi III WOM Finance tahun 2006 dengan tingkat bunga tetap Seri B senilai Rp465 miliar yang jatuh tempo pada 7 Juni 2009.

Hal tersebut menunjuk pada peraturan Nomor X.K.1 lampiran keputusan Ketua Bapepam Nomor Kep-86/PM/1996 pada 17 Januari 1996 tentang keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik,

Sementara itu, Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) peringkat idA- untuk PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) untuk Obligasi II-2005 dan obligasi III-2006.

Peringkat-peringkat tersebut mencerminkan dukungan yang kuat dari pemegang saham pengendalinya, portofolio yang terdiversifikasi dengan baik serta likuiditas yang cukup meski dihadapi oleh tingginya rasio utang terhadap modal.

Hingga kini, pemegang saham perseroan terdiri dari BII sebesar 50,03 persen, IFC sebesar 11,97 persen, DBS Nominess sebesar lima persen dan publik sebesar 33 persen. Kini WOMF memiliki 53 kantor cabang, 87 cabang pembantu dan 40 payment point dan bekerja sama dengan 470 dealer sepeda motor sebagai chanel distribusi di Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi.

Pada penutupan perdagangan IHSG kemarin, harga saham dengan kode emiten WOMF bergerak stagnan di posisi Rp129 per lembarnya.






Fitch: Peringkat Wahana Ottomitra A-(idn)


Minggu, 27 September 2009 - 14:13 wib
Candra Setya Santoso - Okezone

Fitch Ratings

JAKARTA - Fitch Ratings memberikan peringkat nasional jangka panjang untuk PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) pada level 'A-(idn)' (A minus(idn)) dengan prospek positif.

Selain itu, Fitch juga memberikan peringkat obligasi senior di 'A-(idn)' (A minus(idn)) dan peringkat obligasi subordinasi di 'BBB+(idn)'. "Prospek Positif WOMF mencerminkan membaiknya kualitas aset dan profitabilitas perusahaan, meskipun masih pada tingkat yang rendah, serta perkembangan integrasi dengan proses pengendalian internal dan manajemen risiko perusahaan induknya, PT Bank Internasional Indonesia Tbk," papar analis Grup Sektor Keuangan Fitch Ratings Humprey Tjia, di Jakarta, Minggu (27/9/2009).



Peringkat ini, lanjutnya juga merefleksikan komitmen yang tinggi dari perusahaan induk untuk meningkatkan dukungan pendanaan bagi WOMF sebagai bagian rencana strategis BII untuk ekspansi ke sektor pembiayaan konsumen.

Sejak 2007 profitabilitas WOMF membaik ketika perusahaan memulai upaya perbaikan proses bisnis dan penanganan pembiayaan bermasalahnya. Di tahun 2008, perusahaan membukukan laba Rp21 miliar setelah sebelumnya di tahun 2007 mengalami kerugian Rp282 miliar. Keuntungan ini didukung penurunan biaya pencadangan kredit sebesar 43 persen dan biaya dana karena berkurangnya hutang perusahaan.

Pendapatan bunga bersih (NIM) meningkat menjadi 5 persen di tahun 2008 dari 4,8 persen di tahun 2007. Namun pendapatan bunga bersih semester I tahun 2009 yang disetahunkan turun menjadi 4,2 persen akibat perlambatan pertumbuhan pembiayaan perusahaan.

"Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi yang berlanjut hingga semester 1 tahun ini, perusahaan terus berhati-hati dalam melakukan ekspansi dan lebih memfokuskan diri pada penguatan proses manajemen risiko," urainya. Selama semester I tahun ini, perusahaan membukukan laba sebesar Rp 11 miliar.

Di akhir Juni 2009 pembiayaan bermasalah bruto (NPL) perusahaan mencapai 4,4 persen, turun dari 4,7 persen tahun sebelumnya. Walaupun secara rasio penurunan ini tidak signifikan, namun menjadi lebih berarti karena terjadi di tengah penurunan nilai pembiayaan perusahaan. (css)


Beban Terpangkas, Laba Wahana Ottomitra Naik 126%



Minggu, 25 Oktober 2009 - 12:07 wib
text TEXT SIZE :
Candra Setya Santoso - Okezone

JAKARTA - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) mencatatkan kenaikan laba bersih selama kuartal III-2009 hingga 126,06 persen menjadi Rp32,148 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,221 miliar.

Peningkatan laba perseroan tersebut, dipicu oleh terpangkasnya pos beban pinjaman selama kuartal III-2009 mencapai 27,16 persen menjadi Rp178,64 miliar, bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp383,1 miliar. Begitu pula pada pos jumlah beban perseroan yang turun mencapai 12,98 persen menjadi Rp953,6 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,095 triliun.

Hal tersebut disampaikan dalam laporan keuangan Semester I-2009 yang dipublikasikan perseroan, di Jakarta, Minggu (25/10/2009).

Selain itu, pada pendapatan administrasi perseroan mengalami kenaikan hingga 14,64 persen menjadi Rp307,433 miliar, bila dibandingkan periode yang sama sebelumnya Rp268,166 miliar.

Kendati demikian, pada pos pendapatan konsumen bersih perseroan turun hingga 29,69 persen menjadi Rp493,893 miliar, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp702,483 miliar. Selain itu, pos gaji dan tunjangan karyawan mengalami penurunan menjadi Rp203,879 miliar, bila dibandingkan pada periode yang sama Rp210,057 miliar.

Pada penutupan perdagangan IHSG akhir pekan, harga saham dengan kode emiten WOMF melonjak Rp14 ke level Rp155 per lembar sahamnya.(css)

WOM Finance Genjot Target Pembiayaan Rp5 Triliun


Kamis, 3 September 2009 - 17:12 wib
text TEXT SIZE :
foto: Heru Haryono/okezone.com

JAKARTA - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) akan menggenjot pembiayaan di paruh kedua tahun ini guna mencapai target pembiayaan 2009 yang dipatok Rp5 triliun. Hingga semester I-2009 WOM baru menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1,9 triliun.

"Di awal-awal semester satu kemarin pembiayaan kita memang agak lambat," kata Direktur Utama Wom Finance Presiden Direktur Suwandi Wiratno, di Jakarta,Kamis (3/9/2009).


text TEXT SIZE :
foto: Heru Haryono/okezone.com

JAKARTA - PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) akan menggenjot pembiayaan di paruh kedua tahun ini guna mencapai target pembiayaan 2009 yang dipatok Rp5 triliun. Hingga semester I-2009 WOM baru menyalurkan pembiayaan sebesar Rp1,9 triliun.

"Di awal-awal semester satu kemarin pembiayaan kita memang agak lambat," kata Direktur Utama Wom Finance Presiden Direktur Suwandi Wiratno, di Jakarta,Kamis (3/9/2009).

Dia mengatakan, krisis ekonomi global yang dimulai pada kuartal empat tahun lalu membuat perseroan lebih selektif dalam menyalurkan kredit sepeda motor tahun ini. WOM jelas dia, lebih mengutamakan prinsip kehati-hatian guna menekan angka kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Hingga semester I-2009, WOM berhasil menyalurkan pembiayaan 160 ribu unit senilai Rp1,9 triliun. Per Agustus 2009, WOM berhasil meningkatkan pembiayaan sebanyak 255 ribu unit senilai Rp2,7 triliun. "Yang pasti di awal kita agak sedikit melambat karena kita lebih prudent," kata Suwandi.

Meski demikian jelas Suwandi, pada paruh kedua tahun ini WOM akan menggenjot pembiayaan sehingga target kredit tahun ini sebanyak 400 ribu unit senilai Rp5 triliun dapat tercapai. Total pembiayaan ini akan disalurkan di motor bekas sebesar 35 persen dan sisanya motor baru 65 persen. "Kami optmistis akan tercapai," katanya.

Mengenai pendanaannya sebagian besar melalui joint financing dari perbankan nasional, khususnya PT Bank International Indonesia Tbk (BNII) sebagai induk usaha. Sisanya dari kas internal dan pendanaan eksternal lainnya tanpa menyebutkan komposisi masing-masing pendanaan tersebut.

Optimisme ini jelas dia, seiringnya dengan tren meningkatnya permintaan motor, khususnya menjelang lebaran dan akhir tahun. Menurutnya, tren kenaikan permintaan motor juga dipicu dengan semakin turunnya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) ke level 6,5 persen seiring melandainya laju inflasi.

Kondisi ini dipertegas dengan kebijakan 14 bank nasional yang diwajibkan menurunkan suku bunga kredit maksimal 150 basis poin (bps) di atas BI rate. "Meski kebijakan ini tidak bisa langsung direspons, tapi trennya akan memicu kenaikan industri automotif," kata Suwandi.

Suwandi mengatakan, untuk mencapai target pembiayaan tahun ini perseroan berupaya memberikan manfaat lebih kepada pelanggan yang ada (existing). Salah satunya adalah dengan memberikan program KAWAN (Kartu WOM Bermanfaat). Program ini ditujukan bagi pelanggan WOM dengan menawarkan diskon servis dan program undian. "Kami melihat konsumen tidak hanya sebatas pelanggan dalam masa kredit 2-3 tahun, tapi lebih dari itu," kata Suwandi.

Selain itu, jelas dia WOM juga akan menambah cabang guna menggenjot pembiayaan. Pada tahun ini perseroan akan menambah 20 cabang menjadi 160 cabang dari sebelumnya 140. Per semester I-2009, WOM baru menambah satu kantor cabang di Sumatera Selatan. Hingga akhir tahun perseroan akan menambah sekira 19 kantor cabang yang tersebar di Sumatera, dan Kalimantan. Investasi yang dianggarkan setiap satu kantor diperkirakan mencapai Rp100-150 juta yang didanai dari kas internal.

Target pembiayaan WOM tahun ini sebesar Rp5 triliun sama dengan 2008 lalu. Hanya saja secara volume, mengalami penurunan dari 487 ribu unit di 2008 menjadi hanya sekira 400 ribu unit di tahun ini. Penurunan ini jelas Suwandi, karena menurunnya industri motor nasional. "Kita kan mengikuti industrinya," katanya.

Di sisi lain Suwandi mengungkapkan, menjelang lebaran pembiayaan WOM naik 12-15 persen. Per Agustus 2009 pembiayaan perseroan naik menjadi 40 ribu unit atau naik dibandingkan Juli 2009 sekira 35 ribu unit.(Whisnu Bagus /Koran SI/ade)

Arta Prima targetkan kredit baru naik 38%

JAKARTA (bisnis.com): PT Artha Prima Finance menargetkan penyaluran kredit baru pada tahun depan di atas Rp 1 triliun atau naik 38% dibandingkan dengan target tahun ini.

Dirut Artha Prima Junus Elim Leatemia dalam paparan kinerja mengatakan target tersebut dipatok seiring dengan pencapaian yang baik pada tahun ini. Dia mengatakan pada tahun depan diperkirakan permintaan kredit kendaraan komersil tetap tinggi.

"Pada tahun depan kami targetkan bisa mencapai booking [pembiayaan baru] di atas Rp1 triliun menyusul prediksi ekonomi yang kian baik," katanya dalam Paparan Kinerja 5 Tahun hari ini.
Dia mengatakan pendanaan untuk pembiayaan baru tersebut diambil dari dana sendiri (modal sendiri) sebesar Rp82 miliar dan pinjaman bank. Junus memaparkan sampai dengan Oktober 2009, penjualan Artha Prima yang fokus pada kendaraan bekas komersial ini menggembirakan.

Untuk truk, lanjut Junus, penjualan mencapai Rp360 miliar, mini bus Rp108 miliar, pickup Rp96 miliar, angkutan kota (angkot) Rp15 miliar dan kendaraan lain Rp45 miliar.

"Selain itu sampai dengan Oktober 2009, Artha Prima telah membukukan laba bersih Rp26,2 miliar atau meningkat 90,71 % dari Desember 2008 yang hanya sebesar Rp13,7 miliar," katanya. (tw)

Adira Finance bukukan pembiayaan Rp10 triliun

JAKARTA (Bisnis.com): PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) membukukan pembiayaan baru sebesar Rp10 triliun sampai dengan September 2009.

Nilai pembiayaan ini merupakan kontribusi dari pembiayaan sepeda motor sebesar Rp7,5 triliun dan pembiayaan mobil sebesar Rp2,5 triliun. "Pembiayaan baru sampai dengan September 2009 ini benar-benar prestasi yang menggembirakan karena melebihi dari target yang kami tetapkan," kata Stanley Setia Atmadja Direktur Utama Adira Finance dalam siaran pers hari ini.


Pencapaian ini, tuturnya, tak lepas dari keberhasilan pemerintah menciptakan kondisi makro ekonomi yang stabil, suku bunga acuan yang rendah serta nilai tukar dan inflasi yang terkendali.

Seperti diketahui, kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini memang cukup stabil dimana pertumbuhan ekonomi yang masih positif, inflasi dan nilai Rupiah yang terjaga dan suku bunga acuan yang rendah yang membuat industri otomotif kembali bergairah. Peningkatan penjualan otomotif-pun mulai terlihat kembali pada kuartal II/ 2009 dan kuartal III/2009.

"Untuk 2009 ini, kami menetapkan target pembiayaan baru atas sepeda motor dan mobil sebesar Rp13 triliun. Walaupun demikian, jumlah ini masih sedikit lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pembiayaan baru pada tahun lalu yang sebesar Rp14 triliun, hal ini sesuai dengan prediksi karena adanya krisis ekonomi global," paparnya.

Sampai September 2009, penjualan untuk industri sepeda motor baru menurun sekitar 13,8%, sedangkan untuk industri mobil baru turun sekitar 27,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pangsa pasar Adira Finance untuk sepeda motor baru juga mengalami penurunan menjadi sebesar 13% sampai dengan September 2009 dari 13,8% pada periode yang sama tahun lalu.

"Pangsa pasar Adira Finance untuk sepeda motor baru turun menjadi 13%, namun kualitas asetnya tetap terjaga," kata Marwoto Soebiakno, Direktur Pembiayaan Sepeda Motor Adira Finance.

Untuk mobil baru, pangsa pasar Adira Finance mengalami peningkatan dari 2,7% sampai dengan September 2008 menjadi 3,2% pada periode yang sama di tahun 2009.

"Adira Finance akan terus berupaya meningkatkan pembiayaan baru untuk mobil. Kami terus melakukan evaluasi secara menyeluruh atas strategi-strategi pembiayaan mobil dan hasilnya sangat menggembirakan, yaitu semenjak 2008 pangsa pasar kita terus mengalami peningkatan," kata Erida Gunawan, Direktur Operasi dan Pembiayaan Mobil Adira Finance.

WOM Finance akan buka cabang baru di luar Jawa


JAKARTA (bisnis.com): PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) akan memperluas cakupan pembiayaan dengan membuka 30-40 cabang baru khususnya di luar Pulau Jawa.

Direktur Keuangan WOM Finance Alex mengatakan dengan membaiknya prospek pembiayaan tahun depan, perseroan pun berencana membuka cabang-cabang tersebut a.l di Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan.



"Langkah tersebut seiring dengan proyeksi pembiayaan pada tahun depan yang dinilai meningkat dari tahun ini. Kami memerkirakan pembiayaan meningkat. Hal ini menggambarkan permintaan kendaraan juga akan meningkat," katanya seusai menghadiri RUPSLB hari ini.

Menurut dia, cabang di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi tersebut memiliki potensi pasar yang besar. Hal itu mengingat ketiga pulau tersebut kaya akan komoditas pertanian dan perkebunan Dengan kelebihan itu, maka perusahaan pembiayaan yang akan membuka cabang di wilayah tersebut berpeluang mendapatkan konsumen yang baik.

Sebelumnya Alex mengatakan tahuin depan pihaknya berkeinginan mencapai penyaluran kredit baru (booking) hingga Rp6 triliun. "Kami berkeinginan menyalurkan kredit Rp6 triliun pada tahun depan seiring dengan membaiknya ekonomi kita," katanya. (tw)

WOM Finance akan patok pembiayaan Rp6 triliun


JAKARTA (bisnis.Com): PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) berencana mematok pembiayaan sepeda motor baru (new booking) tahun depan mencapai Rp6 triliun.

Direktur Keuangan WOM Finance Alex Hermanto keinginan mencapai booking tersebut seiring dengan kondisi perekonomian Nasional pada tahun depan yang diproyeksikan kian positif.



"Kami berkeinginan menyalurkan kredit Rp6 triliun tahun depan seiring dengan membaiknya ekonomi kita," katanya seusai menghadiri RUPSLB di Jakarta hari ini.

Dia mengatakan penyaluran kredit per Oktober tahun ini mencapai 330.000 unit sepeda motor atau setara dengan Rp3,6 triliun-Rp3,7 triliun. Alex mengungkapkan perseroan akan tetap mempertahankan bisnis utama yakni pembiayaan kendaraan roda dua mengingat potensi yang besar.

"Target tersebut bisa dikatakan indikasi optimistis perusahaan karena perekonomian tahun depan diprediksi membaik sehingga permintaan kredit juga meningkat dan kami tetap fokus pada pembiayaan motor," katanya. (tw)

WOM Finance bidik pembiayaan motor di atas 7%


JAKARTA (Bisnis.com): PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) menargetkan tahun ini dapat meningkatkan market share perseroan dalam pembiayaan sepeda motor di atas 7%.

Presiden Direktur WOM Finance Suwandi Wiratno belum lama ini mengatakan dengan beberapa strategi peningkatan untuk meraih konsumen, pihaknya mengharapkan dapat meningkatkan pangsa pasar perusahaan, khususnya dalam pembiayaan kendaraan roda dua.

“Kami mengharapkan pangsa kami untuk sepeda motor di atas 7%. Pada semester kedua ini diharapkan pangsa pasar pembiayaan sepeda motor kami lebih meningkat lagi,” katanya.

Untuk mencapai target tersebut, ujarnya, pendanaan perusahaan sudah aman berkat dukungan pinjaman dari sejumlah bank, terutama induk perusahaan PT Bank International Indonesia Tbk sebesar Rp5,9 triliun.

Suwandi mengatakan dengan pendanaan yang masih ada tersebut ditambah dengan penerbitan obligasi sebelumnya dan fasilitas pinjaman dari sejumlah bank menjadikan sisi pendanaan tidak menjadi persoalan.

“Pendanaan kami sudah aman karena ditopang dari BII, obligasi yang sudah diterbitkan dan adanya pinjaman juga dari bank lainnya,” katanya.

Pembiayaan baru WOM Finance sejak Januari--Agustus tahun ini sudah mencapai sekitar Rp2,7 triliun atau setara dengan 225.000 unit sepeda motor dari berbagai merek, a.l. Honda, Suzuki, Yamaha, Kawasaki, TVS, dan Bajaj.(er)